Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Dakwah Islam

Sang Penguasa Hujan

-ini artikel lama, pas masih kuliah awal-awal, saya edit sebagian agar sesuai dengan konteks kekinian. Selamat menikmati 🙂 -

Dahulu, ketika saya masih kecil, hujan adalah satu hal yang mengasyikkan untuk bermain. Sering saya dengan teman-teman atau setidaknya kakak saya, berhujan -hujan di luar rumah. Entah hanya sekedar merasakan derasnya hujan menerpa tubuh kami, atau pun berlari-lari dan bersepeda mengamati apa yang terjadi di lingkungan ketika hujan ini. Sesekali merasakan dan minum langsung dari tetesan air hujan, atau terkadang pula mencoba derasnya air cucuran atap rumah. Setelah hujan reda, barulah kami mandi sambil ganti baju. Apakah esok kami akan terkena flu atau pilek, kami tak peduli. Yang penting hari itu saya senang!!

Namun semakin bertambahnya usia, kehadiran hujan justru terkadang terasa mengganggu. Mau hujan-hujan lagi? Masa-masa itu sudah lewat. Malu dong, sudah besar masih mau hujan-hujanan. Mending di rumah, nonton TV dengan kopi atau teh hangat plus pisang goreng. Tapi kalau kehujanan itu sih masih wajar, tapi hujan-hujanan? Sepertinya nggak deh. Malu ah, udah besar kok masih hujan-hujanan.

Kalaupun kita terkadang masih nekat hujan-hujanan, tentu ada alasan khusus. Semisal bagaimana ketika pulang sekolah, tiba-tiba hujan deras datang. Mau menunggu, khawatir kemalaman. Sementara payung ataupun jas hujan tak satupun saya bawa. Jadilah nekat menembus derasnya hujan jadi satu-satunya pilihan. Dan malamnya, saya pun harus menyesal karena tak lama kemudian, saya baru sadar bahwa buku-buku ataupun seragam, banyak yang akhirnya harus disetrika agar cepat kering.

Hujan memang suatu hal yang terkadang sangat kita harapkan, namun tak jarang pula kita berharap agar hujan jangan turun dahulu. Seolah-olah kita selalu ingin agar ia turun disaat yang tepat bagi kita. Padahal bisa jadi saat yang tepat bagi kita untuk hujan, justru saat yang tidak tepat untuk orang lain.

Namun ego seseorang terkadang lebih kuat dari kesadarannya tentang hal ini. Sehingga di berbagai daerah di Indonesia pun kita mengenal yang namanya pawang hujan. Orang yang dianggap mampu menahan, ataupun mensegerakan hujan. Dan masyarakat kita pun mengenal bermacam klenik tentang hujan.

Pernah suatu saat di sebuah resepsi pernikahan, ketika masih kecil, saya melihat ada sapu lidi yang di tiap-tiap lidinya ditancapkan bawang merah. Sempat terpikir bahwa hal itu mungkin adalah sate bawang yang mau dibuat, namun tentu saja bukan!! Siapa juga mau makan sate bawang?? Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah semacam benda/jimat di budaya jawa untuk menolak hujan. Ada-ada saja orang kita itu, mengiris bawang memang bisa membuat kita menangis, namun membuat sate bawang merah agaknya dipercaya bisa membuat langit menunda tangisannya.

Entahlah, masyarakat kita sebagian memang masih ada yang percaya dengan hal-hal semacam itu, Namun yang jelas saya menolak keras hal-hal tersebut, karena toh bagaimanapun juga hal tersebut boleh jadi masuk kategori syirik, seolah-olah mempercayai ada kekuatan lain yang berhak mengatur hujan. Padahal bukankah Allah jualah yang berkuasa atas segala hal? Termasuk hujan ini bukan? Namun agaknya masyarakat memang masih butuh pemahaman lebih. Tak terkecuali di kota saya, di Ponorogo.

Meskipun kota kecil dan sering disebut dusun oleh teman saya, yang jelas kota saya hampir tak pernah sepi setiap tahunnya. Yang namanya pasar malam, minimal 4 kali dalam setahun. Ketika idul fitri, tahun baru hijriah, saat 17 agustusan, dan tahun baru Masehi. Sehingga yang namanya alun-alun kota, dipastikan lebih banyak ramainya daripada sepinya.

Tak terkecuali menjelang 1 suro tahun ini. Tahun baru Hijriah, atau satu suro dalam kalender jawa adalah momentum paling ramai di kota saya. Dalam rangkaiannya, ada banyak kegiatan yang menjadi agenda tahunan pemerintah daerah. Contoh paling kecil, menjelang suro seperti sekarang ini, seluruh pegawai negeri di jajaran pemda diwajibkan memakai seragam khas Ponorogo. Para laki-lakinya berpakaian warok, hitam-hitam, sementara di pusat kota ada penyelenggaraan Festival Reog Nasional. Di malam suro pula, atau malam 1 muharram adalah puncaknya. Hampir "separuh" lebih penduduk ponorogo (hiperbolis) , baik di kota, atau di pelosok desa, semua tumpah ruah ke jalan-jalan di pusat kota. Entah hanya sekedar jalan-jalan atau apalah… saya juga tak begitu paham.

Namun yang jelas hujan sudah lama tak membasahi kota kami. Hal yang tak biasa mengingat sekarang sudah masuk bulan Januari.

”Kalau kata orang, soalnya di alun-alun ada pasar malam, makanya nggak hujan-hujan sejak hari raya kemarin”, ujar Papaku suatu malam.

”ada pawang hujan gitu maksudnya?” ujarku coba menghubungkan kejadian tersebut. Hal semacam ini memang sudah biasa terdengar di kota kami, dulu ketika saya masih SMP, katanya konon jika pawang hujannya kalah atau dengan kata lain masih tetap juga hujan, sang pawang bahkan bisa sampai tewas. Katanya sih nggak kuat. Katanyaa….

Kulihat langit, tak banyak awan yang ada memang. ”Di Malang sama aja pa, sudah hampir dua pekan nggak ada hujan, kalaupun ada cuman gerimis dan itu pun sangat sebentar.”, ujarku menambahkan. Ya saat itu memang saya sedang pulang kampung. Di kampus sedang libur setelah UAS. Ohya, FYI di Malang sedang tidak ada pasar malam.

Dan entah apapun namanya, bagaimanapun caranya yang pasti saya tidak mempercayai hal-hal semacam itu. Bahkan kami sekeluarga sangat anti dengan hal-hal klenik semacam itu. Pawang hujan, sate bawang, kemenyan atau seabrek benda-benda keramat lainnya tentu toh bisa mati, bisa hancur. Keris sesakti apapun digergaji juga patah, menyan dibakar juga habis, pohon gede kena chainsaw juga roboh. Benda selemah itu, bagaimana bisa menguasai hujan? Pawang hujan sehebat apapun, kesambar petir paling juga mati. Coba aja kalau ndak percaya.

Intinya adalah, kita seharusnya yakin bahwa pawang hujan itu ataupun ”sate bawang” tadi sesungguhnya tak punya kekuatan sama sekali tentang hujan. Jika Allah menghendaki hujan turun, tak satu pun dari orang-orang ini atau juga benda-benda tersebut yang mampu menghalangi. Demikian juga sebaliknya. Mempercayai mereka sama artinya mempercayai ada hal yang berkuasa selain Allah, dan bukankah ini termasuk menyekutukanNya?

Wallahu’alam, ada atau tidaknya sang pawang hujan di rangkaian pasar malam di kotaku, yang jelas di malam ini, malam satu suro, puncak dari rangkaian acara, di kota ini justru turun hujan.

Ponorogo, 19 Januari 2007
Malam tahun Baru 1 Muharram 1428H
Setelah hujan reda…

*foto ilustrasi dari pixabay.

Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Cuap Cuap

Jangan Lupa (TETAP) BAHAGIA,

Orang lain tidak iri dan dengki dengan kekayaanmu,
Orang tidak dengki dengan kepintaranmu,
Orang tidak hasad dengan kecantikanmu, banyaknya keturunanmu, ataupun standar duniawi lainnya.
 
Tapi ada orang yang akan IRI dan DENGKI MELIHATMU BAHAGIA,
karena bahagianya hidup adalah ciri keberkahan,
 
Tak heran jika, -boleh jadi-, akan ada orang yang tetap iri dengki denganmu,
meski kau dicap miskin,
kau dianggap bodoh,
belum dikaruniai keturunan ,
apalagi cakepnya 'dibawah pasaran',
selama kau banyak bersyukur, tersenyum, dan berbahagia..
mereka akan iri dengki kepadamu
Percayalah, Sungguh diluar sana,
boleh jadi ada orang yang tangannya gatal,
matanya panas,
jiwanya sesak, hatinya pedih,
HANYA KARENA MELIHATMU bahagia.
 
Kau tak menyempitkan rezekinya,
kau tak mencaci keturunannya,
dan bahkan kau tidak melakukan apapun kepadanya!
 
Bukan salahmu mereka jadi begitu,
Bukan salahmu, dan
BUKAN SALAHMU!

Kau Bahagia, dan dia jadi iri, dengki, hasad,
Itulah ciri penyakit jiwa...
Hati yang sakit
 
Kau tak melihatnya,
kau tak mengetahuinya,
namun dia akan menggunakan seluruh daya upayanya untuk sekedar melihatmu menderita,
atau setidaknya,

menghilangkan senyum ceriamu seperti biasa.

BUKAN SALAHMU atas penyakit hatinya,
TETAPLAH Berbahagia!

Maka bersyukurlah jika kau dijauhkan dari orang-orang seperti ini,
membersamai mereka akan melukai jiwamu,
dan sakitnya jiwa lebih berbahaya dari sakitnya tubuh,
sakitnya tubuh akan sembuh dengan semangat jiwa,
namun jiwa yang runtuh, sungguh tiada obatnya
 
Bersyukurlah jika kau punya keluarga yang menyenangkan,
teman yang shalih dan shalihah,
tetangga yang baik,
dan kenalan yang baiknya gak ketulungan!
Mereka lebih berharga dari uang milyaran,
hanya saja seringkali kita lupakan,
duh Robbi, mohon ampunkan!
 
Malang, 1 Juli 2017
Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Mengabadikan Pelangi

Bersyukur di sela Bencana

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un".

Sebuah kata yang umum kita ucapkan ketika mendengar sebuah berita duka. Sebaliknya kata-kata Alhamdulillah sangat jarang kita temukan ketika terjadi peristiwa-peristiwa seperti ini. Sederhana, kita sulit menemukan sesuatu yang kita syukuri ketika terjadi musibah, paling-paling kita hanya bersyukur karena kita terselamatkan dari musibah seperti itu.
syukur

Namun kepulangan ku kemarin ke Ponorogo untuk meliput pasca Banjir, mau tak mau merubah sisi pendapatku tentang dua kata ini. Di atas truk yang melaju membawa bantuan ke lokasi pasca banjir, ustadz Agus, seorang ketua partai dakwah di Ponorogo sempat berkata,

"Lah iya, ketika kita menyaksikan mereka mendapat musibah, kita itu merasa kasihan. Kita berucap ‘Innalillahi wa inna ilaihi raajiun’, tapi ketika kita bisa beramal membantu mereka, kita bersyukur karena bisa menambah amal pahala kita."

Aku dan beberapa ikhwah lain hanya tertawa kecil membenarkan, bisa-bisa aja ustadz satu ini.

Subhanallah, ucapan beliau mau tak mau menggugah sisi lain perspektif pandanganku tentang syukur. Beryukur ternyata tak hanya ketika kita mendapat sebuah kenikmatan, namun juga selayaknya ketika kita diberi kesempatan untuk beramal, untuk berbuat baik, untuk menambah amal kebaikan kita.

Bukan bersyukur atas musibah yang menimpa saudara kita, namun Bersyukur bahwa kita masih diberi kelapangan untuk berbuat sesuatu bagi saudara kita yang kesusahan.

bersyukur kita masih memiliki sisi kebaikan
bersyukur pula bahwa kita diberi kepedulian
bersyukur pula bahwa kita diberi kesempatan untuk beramal.

"Kalau ada bencana begini bukan hanya innalillahi yang kita ucapkan, tapi juga sekaligus Alhamdulillah karena kita bisa lebih banyak beramal bagi ummat ini", tambah beliau.

Suatu ucapan yang langka, di kala banyak orang tak lagi peduli atas musibah saudaranya, orang-orang ini justru berucap tak hanya Innalillah, namun juga Alhamdulillah karena mereka masih diberi kesempatan untuk beramal dan berkontribusi.

Manakah Anda?, apakah Anda termasuk orang yang diam tak berkata apa-apa, atau yang hanya berucap "innalillahi", ataukah juga termasuk yang berkontribusi dan ‘layak’ berucap pula "Alhamdulillah".. wallahu’alam.. Anda sendiri yang lebih tahu.

Malang 2 Januari 2007

Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Mengabadikan Pelangi

Harga Sebuah Istiqomah

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar yang betul-betul mengejutkan. Salah seorang kawan SMA dulu, dikabarkan sudah berbadan dua, alias hamil di luar nikah.harga price

“Kurang tahu ya, sekarang katanya dia diterima kuliah di Universitas X”, seorang teman memulai pembicaraan., “Tapi katanya sekarang ia sudah dobel”.

Mendengar dobel, pengganti kata hamil membuatku heran.

“Ah masak sih, trus…?”, tanyaku lanjut.

“Ya, maklum lah, sejak SMA saja pergaulannya saja sudah kelihatan bebas. Pada awalnya aku juga nggak percaya, tapi setelah dengar sendiri dari Si Anu, temen lengketnya dia, aku baru percaya..!!”, sambung temanku dengan semangat.

Saya benar-benar tidak menyangka akan mendengar hal ini pada awalnya. Begitu cepat manusia bisa berubah. Sebenarnya tak masalah sih ia hamil saat kuliah, namun itu andaikata
ia punya suami yang sah disana. Suasana kehidupan bebas yang dijalaninya tak urung membuatku “maklum” akan hal itu. Meski sebenarnya hal ini tak boleh menjadi dalih atasnya.

Disela-sela acara Ospek Kampus yang padat, Mas Sukri, salah seorang aktivis BEM, bertutur kepada kami, “Kalian tahu nggak sebenarnya apa hal yang seharusnya paling membahagiakan bagi kita…??”

“Ketika kita membantu orang lain..??”, jawab salah seorang peserta tak yakin akan jawabannya.

“Ya, itu juga benar, itu salah satunya, namun Kalian tahu nggak hal yang sungguh paling membahagiakan  kita..??”, Syukri berhenti sejenak, “Ketika kita bisa istiqomah dalam kebaikan.”

Istiqomah, bisa diartikan untuk untuk tetap berada di jalan yang kita geluti sekarang. Untuk bisa bertahan terbang tinggi di tengah terpaan angin yang kuat sekalipun. Untuk memiliki sebuah laying-layang yang kokoh beserta talinya yang kuat. Hal yang sulit ditemukan belakangan ini.

Teringat saya kan sebuah cerita di blog milik pak Suaidi, salah seorang guru saya, sebuah cerita yang bagi saya cukup membuat saya merenung.

“Singkat cerita ada fulanah yang dulunya aktivis dakwah. Namanya aktivis dakwah tentulah menutup aurat mereka, berjilbab, berpakaian sopan, dan seterusnya. Setelah lulus S1, semuanya berpisah dan berpencar untuk mencari maisyah (kerja-red) sendiri-sendiri. Singkat cerita lagi, teman-teman seangkatan itu mengadakan sebuah reuni akbar. Dan ternyata dilihatlah sama kawan-kawan seangkatan beliau yang juga dulu pernah menjadi aktivis juga.

Apa yang terjadi, si fulanah ini ternyata sudah 360 derajat berubah. Dia kini sudah tidak mengenakan kerudung alias buka jilbab dan lebih suka pakai rok mini. Karena memang dia bekerja menjadi seorang pramugari.

Salah seorang muslimah temannya coba untuk memberanikan diri bertanya kepadanya yang sebelumnya sempat menjadi pembicaraan kawan-kawannya yang masih pakai kerudung itu.

Apa coba jawab fulanah? “Apakah dalam setiap doa, kalian mendoakanku utk tetap istiqomah?“. Seluruh kawan-kawannya pun spontan terdiam.

Lalu fulanah pun melanjutkan perkataannya, “… padahal setiap dalam sholat, aku mengingati kalian dan mendoakan agar kalian bisa tetap istiqomah.”

Spontan saya jadi merenung, jangan-jangan selama ini saya lupa mendokan orang-orang disekitar saya?

 

Malang, 3 Januari 2006

revised in 2011

Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Kisah Inspirasi dan Motivasi Lain-lain

Bukan di Tangan Dokter

Apakah Anda dikenai vonis tak bisa sembuh dari dokter? baik untuk stroke, kanker, atau penyakit apapun?

-hanya ada dua penyakit yang tak bisa disembuhkan, tua, dan maut-

Sekitar dua pekan lalu, saya, istri, dan mertua takziah ke salah seorang kerabat. Kakek kerabat ini di usianya yang sudah renta baru saja meninggal dunia. Dari perbincangan yang saya tangkap, beliau meninggal karena stroke. Sudah sekitar setahun beliau terkena stroke, dan aktifitas sehari-harinya hanya ia jalani di atas tempat tidurnya.

Categories
Artikel Inspiratif Cerita Non Fiksi Inspiratif Kisah Inspirasi dan Motivasi Lain-lain

Database Amal Manusia,

Sudah banyak orang merelasikan sains dan islam. Terutama dari Fisika, Biologi, dan Kedokteran. Namun islam dengan ilmu komputer? Siapa bilang tak ada?

Categories
Artikel Inspiratif Cerita Non Fiksi Inspiratif Kisah Inspirasi dan Motivasi

Nyanyian Tengah Malam, Sebuah Kisah Inspiratif

Ketika banyak manusia terlelap, sebagian masih harus terbangun untuk mengais rezeki di jalanan. Ini bukan kisah horor, tapi kisah inspiratif

Categories
Artikel Inspiratif Cerita Non Fiksi Inspiratif Kisah Inspirasi dan Motivasi

Pembaca Dua Pahala, Belajar Mengaji Al Quran di Usia Dewasa

Anda sudah bisa mengaji? Seberapa sering Anda membacanya? Kisah inspiratif ini memotivasi kita untuk giat belajar mengaji Al Quran meski di usia dewasa

Categories
Artikel Inspiratif Cerita Non Fiksi Inspiratif Kisah Inspirasi dan Motivasi Mengabadikan Pelangi

Gitar Dua Belas Senar

Dua belas dawai (senar) di gitar seorang pengamen malang-surabaya ini rasanya masih tak cukup menggambarkan seberapa inspiratif ia, dengan kisahnya berikut.

Categories
Cerita Non Fiksi Inspiratif Lain-lain

Filosofi : Rumah adalah Identitas Pemiliknya

Ya, Sadar atau tidak, rumah menunjukkan kepribadian & identitas pemiliknya... menjadi identitas, bukan sekedar surga apalagi cuman istana. Tak hanya sekedar tempat berteduh. Namun lebih dari itu!

Bayangkan jika rumah kita pun menggambarkan identitas kita, menggambarkan seperti apa para penghuninya. Terlebih jika rumah itu adalah hasil membangun sendiri dan bukan karena beli jadi ala KPR developer jaman sekarang.

Bayangkan jika orang mengenal kita, bukan sekedar dari apa yang kita pakai, dari yang kita ucapkan, namun juga dari apa yang kita tinggali?

Boleh jadi kita telah melakukannya sehari-hari. Sadar ataupun tidak!. Kita melihat sebuah rumah, lalu berkomentar, "Pemilik rumah ini adalah orang yang suka dengan sesuatu yang klasik", atau misal "Aku tahu dia orang kaya, tapi rumahnya sangat sederhana". Atau tak jarang pula penilaian masterart, sebagaimana saya melihat Ayah saudara saya yang juga berprofesi sebagai jasa bangun rumah di Malang, bahwa beliau orang yang memiliki citarasa seni, quality oriented, dan berkelas!

Singkat kata, rumah menjadi gambaran seperti apa penghuninya. Menjadi cermin kepribadian para pemiliknya. Lihatlah bagaimana rumah Spongebob, Patrick, dan Squidward. Betapa masing-masingnya menjadi gambaran bagaimana keseharian mereka. Ada yang rumahnya dari batu solid menggambarkan kekakuan, ada yang ngejreng ceria dengan nanasnya, atau sekedar setengah bulat berpasir cuek tak bercitarasa... Nah, rumah seperti apakah milik Anda? dan sudahkah kepribadian Anda tercermin didalamnya?

Mohon maaf, saya hari ini belum memiliki rumah di dunia nyata. Masih sebuah kontrakan sederhana. Namun meski begitu, setidaknya saya sudah punya (pernah punya) banyak rumah di dunia maya. Dan saya berharap, bahwa rumah maya dihadapan Anda ini bisa membawa manfaat banyak bagi Anda, dan dengannya semoga kita lebih banyak berinteraksi, dan bersilaturahim.

Entah sudah rumah ke berapa situs yang ini muncul dihadapan Anda. Sejak saya pertama kali membuat sebuah website pribadi ketika SMP dulu (sekitar tahun 2000an, masih zaman tripod.com), hingga sekarang, barangkali sudah ada 5 rumah dunia maya atau lebih yang saya tempati. Yeah, setidaknya kedua tangan saya masih cukuplah untuk menghitungnya.

Dan apa yang Ada di depan Anda saat ini tak lain adalah rumah saya yang kesekian kalinya. Kali ini saya tak pakai nama asli saya sebagai domain, melainkan judul sebuah novel inspiratif yang saya tulis beberapa waktu lalu, dan saat ini sedang menanti tanggal terbitnya.

Saya harap dengan website ini, kita lebih dapat saling mengenal, bersilaturahim, dan tak kalah penting, semakin berbagi hikmah dan inspirasi satu sama lain. Tetap stay in touch, silakan bookmark situs ini, atau berlangganan kode