Untuk Apa – Perjalanan Mencari Konsep Diri

Sayyidina umar pernah berkata, Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya dia mengenal Tuhannya. Ungkapan sederhana, namun dalam. Sudahkah Anda mengenal diri Anda sendiri? Kita, manusia adalah sistem kompleks. Ilmuwan menyebut kita sebagai "the most complex machine". Melihat diri kita saja dan apa yang menyusunnya, Bagaimana kuku tumbuh, bagaimana darah beredar, bagaimana kita menghirup oksigen, mengubah benda-benda kimiawi menjadi energi dan mengeluarkan sisa-sisa metabolismenya. Bagaimana kita membutuhkan tidur sebagiamana makhluk hidup lainnya. Itu jika dari sisi fisiknya saja. Belum dari sisi ruhiyah, sisi kita - manusia - sebagai sebuah Jiwa. Secara fitrah, manusia tidak dapat lepas dari pertanyaan-pertanyaan fitrahnya. Beberapa ulama merumuskan pertanyaan tersebut menjadi 3 saja, saya menyebutnya 3 pertanyaan kehidupan.
  1. Darimana kita berasal (sebelum hidup)
  2. Untuk apa kita hidup
  3. Akan kemana kita setelah mati.
Dan filsafat, ataupun sains tak mampu menjawabnya. Sains hanya dapat berteori pada 1 dan 3, itupun tanpa dukungan bukti saintifik. Sederhana, tak ada yang ingat bagaimana kita sebelum lahir, dan tak ada yang bercerita apa yang dialami orang setelah ia meninggal. Filsafat pun hanya mampu membantu beretorika di sisi ke-2, itupun akan menghasilkan ragam jawaban yang berbeda. Filsuf cina berbeda versi dengan filsuf india. Filsuf komunis akan berbeda dengan filsuf kapitalis, dan seterusnya. Dan disinilah titik dimana agama, menjadi satu-satunya entitas yang dapat menjawab ketiga pertanyaan fitrah itu. Ketika sains dan filsafat tak dapat merumuskan, -hanya mengira-ngira- dan beretorika, Agama telah menjelaskannya sebagai sebuah kepastian. Sebagai sebuah agama, Islam telah menjelaskan ketiganya secara gamblang, dan dengan sangat logis. Ia menjelaskannya dalam ayat-ayatnya. Beberapa melalui ayat dengan teks yang jelas(semisal QS Adz Dzariyat 56), namun tak sedikit pula melalui pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita masing-masing. Pertanyaan yang mau tak mau menyeret kita berhenti sejenak dan merenung. 28 Tahun saya dilahirkan Allah kedunia, dan saya menyayangkan, bahwa saya baru banyak merenung di 10 tahun terakhir saya. Disisi lain, saya juga bersyukur bahwa Allah masih memberikan hidayah kepada saya, lepas dari jahiliah masa remaja. Berbagai perenungan membawa saya pada satu buah kesimpulan, dari semua orang hebat yang kita kenal, mulai dari mereka yang ada di buku sejarah (semisal Umar bin Khattab, Salahuddin, Muhammad Al Fatih, dlsb), atau orang-orang terdekat kita (ibu, ayah, istri),  mereka adalah yang telah merenungkan sebuah pertanyaan penting... . UNTUK APA? Bagi saya ini adalah salah satu pertanyaan yang sering saya renungkan. Untuk apa Allah menciptakan kita? Untuk Apa Allah memberikan kita Islam, Untuk apa saya menikah? Untuk apa saya bekerja, Untuk apa saya menulis artikel ini, Untuk Apa Allah menjadikan saya ahli di bidang komputer, dan sederet untuk apa lainnya.... Saya yakin, setidaknya Anda pernah bertanya itu... tentang diri Anda sendiri. Dua kata tanya sederhana, namun bagi saya ia sangat dalam. Kedua kata tersebut mau tak mau menyeret kita ke ranah konsepsi kenapa kita melakukan sesuatu. Sesuatu yang sering disajikan film-film Hollywood terkait kemunculan para superhero mereka. Pertanyaan yang lahir dari kegelisahan-kegelisahan jiwa, yang membuat kita tak bisa tertidur lelap, yang membuat akal dan tangan kita seolah kehabisan waktu mencari atau bahkan membuat jawaban tersebut. Dan begitu Anda mampu merumuskan jawaban pertanyaan Anda, maka disitulah -Insya Allah- titik ledak Anda. Ibarat kembang api, disitulah saat percik api menghabiskan sumbu, detik tepat saat Anda akan meluncur membumbung tinggi ke angkasa. Disitulah -saat kita mengetahui jawabannya- titik maksimum seorang manusia akan mampu memaksimalkan seluruh potensinya, seekor harimau akan mengaum seperti harimau, dan seekor elang akan terbang setinggi-tingginya. Karena sederhana saja, "apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?" Ada orang yang sekedar kuliah, lalu ada orang yang tahu untuk apa ia kuliah, akankah keduanya sama? Ada orang sholat yang sekedar sholat, lalu ada yang juga tahu untuk apa ia sholat... akankah keduanya sama? Ada orang yang berislam, lalu ada orang yang tahu untuk apa ia masuk Islam akankah keduanya sama? Selamat merenung, hadapi kegelisahanmu, temukan jawaban "Untuk Apa" dalam dirimu...
Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)
Malang, 29 Juni 2015.