Kacang Kita dan Kacang Mereka

Malam ini setelah browsing beberapa berita gempa, tiba-tiba saja mendapat sebuah berita yang mengingatkanku tentang sebuah situs yang kebetulan lama tak aku kunjungi, padahal situs tersebut sering diupdate. Ada sebuah berita di situs tersebut yang menarik perhatian saya. Berita yang mungkin bagi kita terlalu terdengar sepele dan sangat sederhana, Intinya tentang petani yang berhasil menanam kacang, dan menjualnya di pasar. Ya.. kacang.. kacang-kacang biasa seperti yang biasa kita makan, seperti yang biasa kita buat sambal pecel, dibuat rujak, atau sekedar cemilan penambah jerawat. Tak ada yang spesial dengan kacang itu, apakah kacangnya berbiji besar-besar, lebar, atau semacamnya, sama sekali tak ada. Tak jauh beda dengan kacang-kacang kita.kacang Bagi kita, orang Indonesia, tentu akan serentak berpikir, Kacang??? Apa uniknya sehingga ia lantas masuk berita??? Toh petani-petani kita bisa menanamnya setiap hari…??? tak kekurangan, bahkan boleh jadi berlimpah, dan dengan mudah bisa kita temui di toko-toko, pasar-pasar, dan bahkan di tegalan dan sawah sekitar kita. Lantas apa salah si kacang sehingga ia layak masuk berita? kalau orang keselek kacang lantas meninggal OK lah masuk berita, namun ini hanya orang yang “sekedar” menanam kacang, lalu menjual di pasar. Hal yang sama yang dilakukan oleh petani-petani kita, dan bahkan petani-petani lain di seluruh dunia. Namun ada yang beda dengan mereka… satu hal, karena mereka adalah petani-petani Gaza. Anda tahu Gaza kan? jika Anda tak tahu, bisa saya katakan, Anda adalah orang yang nyaris tak pernah bersentuhan dengan berita. Gaza adalah salah satu bagian dari Palestina, Satu-satunya di bumi ini yang masih terjajah, Negeri yang pada awal tahun baru 2009 kemarin diporakporandakan, dibombardir habis-habisan oleh penjajah Israel, dan membuat ribuan orang menjadi syuhada… dan yang mungkin sering dilupakan banyak orang ialah bahwa mereka adalah negeri yang terisolasi, yang terblokade dari seluruh perbatasannya oleh penjajah Israel. Ah, Ada yang kemudian membuat saya tiba-tiba terharu membaca beritanya.  Menanam Kacang dan menjualnya di Pasar yang bagi kita di Indonesia sangat umum sekali, dan bahkan terkesan terlalu biasa, ternyata menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi saudara-saudara kita yang senantiasa hidup dalam blokade dan rasa was-was akan serangan penjajah Israel. Bagaimana dalam sebuah negeri terisolasi, yang luasnya bahkan tak sampai sebesar pulau Jawa, mampu menghasilkan produksi hasil pertanian sendiri adalah hal yang sangat luar biasa. Bagi kita mungkin tak ada efeknya, namun bagi mereka, ini berarti bisa mengurangi efek blokade yang sungguh sangat menyengsarakan. Ah, ini hanya secuil Gaza yang mungkin tak sesubur tanah Palestina lain yang kini dalam penjajahan dan diklaim sebagai wilayah Israel. Bersyukurlah kita di Indonesia, Anda mau tanam kacang di belakang rumah Anda pun dijamin tumbuh, air kita melimpah, tanah kita luas, dan bahkan kita tak perlu was-was ada pesawat menjatuhkan bom di lahan pertanian kita. Blokade apalagi… Anda tak perlu seperti mereka saudara-saudara di Gaza yang bahkan untuk bisa menanam kacang-pun sang Menteri Pertanian dari HAMAS harus studi dahulu ke Sudan, mendatangkan bibit pun tak bisa dengan truk seenaknya, harus diselundupkan melalui terowongan-terowongan penyelundupan, ketersediaan air yang kita bisa ambil dengan sangat mudah, apalagi belum dengan kekhawatiran setiap saat ada bom jaatuh membakar habis ladang kita. Ah, tiba-tiba saja saya jadi termenung, jangan-jangan kita ini kurang bersyukur… Ada tanah sebegitu luas, ada air sebegitu melimpah, ada kebebasan begitu mudah, Mau tanam kacang, kentang, wortel, sawi, kedelai, atau bahkan jengkol sekalipun negeri ini sungguh-lah mampu. Itu hanya hasil olahan tanah saja, belum ternak, belum tambang, belum ikan, belum yang lain-lainnya… yang kata seorang teman, kekayaan Indonesia itu  jauh lebih besar daripada kekayaan minyak negara-negara Arab. Namun anehnya, kenapa pula negeri ini tak kunjung pula barokah, dari jaman proklamasi sampai kini, lagu kemiskinan tak kunjung henti… apalagi kemaksiatan, rasanya kok jadi sejarah abadi. duh Robbi, ampuni negeri ini apabila tak kunjung Kau ridhai… Allahumma inni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibaadatik Kuatkan hati kalian wahai muslimin Gaza… doa kami menyertai kalian semua.   Malang 7 Oktober 2009 Ketika tiba-tiba ingin makan kacang…