Jangan Menangis Ma…

Semenjak aku SD hingga mahasiswa, sekalipun belum pernah kulihat mama menangis. cc_mothersday6 Menangis hingga keluar air mata, atau setidaknya suara yang menjadi berat dan serak. Tak pernah sekalipun! Jangankan melihat, mendengarnya terisak di dalam kamar pun aku tak pernah. Entah karena mama yang memang tak pernah menangis ataukah karena mama yang tak mau putra putrinya melihatnya menangis. Ketika Papa dan mama bertengkar pun, biasanya hanya terjadi aksi saling diam selama satu hari. Dan jika sudah begitu, biasanya beliau hanya akan mengeluh tentang adik-adik Papa yang lama tak mencicil hutangnya, atau bercerita tentang bagaimana dulu ketika Papa kena kasus, dan mama-lah yang paling berjasa menanggung ekonomi keluarga. Aku hanya maklum, sebuah pelampiasan emosi yang memang wajar, dan aku pun hanya mendengarkan tanpa banyak berkomentar. Tapi biasanya hanya seperti itu saja, sudah selesai dan tanpa ada sebuah tangisan sedikitpun disana. Bahkan ketika itu terjadi , tak tampak sedikitpun raut kesedihan diwajah beliau. Namun beberapa bulan belakangan ini, setelah mama terkena sakit kemarin, sakit yang membuatnya tak bisa kemana-mana selain di tempat tidurnya, mamaku tak lagi seceria dahulu. “Hiburan mama hanya kalian berdua”, ujar beliau di telepon suatu hari. Aku hampir menangis mendengar kata-kata tersebut. Tapi aku yakin bukan itu, mama tak lagi ceria karena beliau tak lagi bisa mengirim tambahan uang untuk putra-putrinya. Ketika mama masih sehat, dan semenjak Papa didzalimi oleh kantornya dengan hukuman skorsing yang tak kunjung ada kejelasannya, gaji beliau berkurang banyak. Ketika enam bulan hukuman resmi, gaji beliau hampir membuatku menangis,karena bahkan untuk hidup satu orang selama satu bulan pun tak cukup. Selama itu, sekali lagi, mamalah yang paling banyak berjasa untuk keluarga. Mama membuat jajan yang dititipkan ke toko milik tetangga. Beliau juga menerima pesanan entah itu kue atau nasi kotak dari rekan-rekannya. Alhamdulillah, dari situlah beliau bisa mengirimi putra-putrinya uang setiap bulannya. Namun itu tak berlangsung lama, ketika suatu waktu mama terkena penyakit tersebut. Entah kenapa, saat itu beliau masih bisa tersenyum, meski tubuhnya tak berdaya apa-apa. Layaknya seorang bayi, apa-apa harus dilayani. Makan, minum, mandi, dan lain-lain masih butuh bantuan orang ketiga. Ah untung saja Papa terkena skorsing sehingga ia bisa merawat mama di rumah. Andai tidak, maka siapa yang akan merawat beliau? Dan sekali lagi, Aku pun hampir menangis melihat tubuh yang lemah terbaring di tempat tidur itu, tubuh yang biasanya aktif datang ke pengajian-pengajian, tubuh yang biasanya membuat kue dan nasi kotak untuk membiayai kehidupan keluarga, kini otomatis tubuh itu tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku pun menangis jika mengingat mama terkena sakit tersebut hanya karena kecapekan membuat kue pesanan, yang jelas hasilnya itu untuk dikirimkan ke aku dan kakakku. Di awal-awal sakit beliau, saat itu, syukurlah mamaku setidaknya masih bisa sedikit ceria. Pasalnya di awal-awal masa sakitnya, masih banyak dari teman-teman Papa dan mama yang datang menjenguk. Dan terlebih lagi karena aku pun masih menyempatkan diri di sela-sela kepanitiaan Ospek kampus untuk pulang membantu Papa. Namun seiring waktu, yang berkunjung semakin sedikit, dan karena tugas aku pun juga harus segera balik ke Malang, mamaku mulai kesepian. Andai tak ada tetangga yang baik hati, tentulah rumah kami sangat sepi. Meski ada TV disediakan di depan tempat tidur beliau, namun mamaku bukanlah tipikal orang yang suka menonton televisi. Waktu kesehariannya biasa ia gunakan membuat pesanan kue atau nasi, ya karena memang itulah hobinya. Dan sungguh bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang sangat aktif seperti mamaku tiba-tiba harus berhenti total dari kegiatannya. Kecintaannya terhadap putra-putrinya, keinginannya untuk segera beraktivitas, ditambah motivasi spiritual yang beliau miliki telah berbuah sesuatu hal. Dan, biidznillah sebuah keajaiban terjadi, tak sampai dua bulan mamaku sudah bisa berjalan dengan normal. Waktu yang bahkan sangat mengherankan dokter-dokter beliau. Ketika di hari sebelumnya beliau masih harus dibopong ke Rumah sakit, sebulan setelahnya, beliau sendiri yang berjalan ke ruang dokter tersebut. Ya, meskipun tangan dan tubuh beliau masih agak lemah, namun ini sungguh kemajuan yang luar biasa. Kami tak henti-hentinya berucap Syukur atas anugerah cepatnya kemajuan penyembuhan beliau. Namun kesembuhannya tak spontan membuat mama ceria, di sisi lain, beliau sadar bahwa ketika keluarga menumpukan ekonomi terbesar pada pesanan kue yang diterima oleh mama, dan kini beliau tak mampu berdaya apa-apa. Bukan hanya beliau terlalu lemah untuk membuat makanan-makanan itu, namun juga karena pesanan-pesanan kue itu kini tak lagi datang. Maklum, orang yang biasa memesan itu adalah rekan-rekan mama sendiri. Mengetahui kondisi mama seperti ini, mana tega mereka memesan kue-kue itu ke mama? Kondisi mama yang semakin membaik, tak membuat ekonomi keluarga menjadi pulih. “Maafin mama, belum bisa membahagiakan Tegar dan Lia”, ujarnya satu waktu. “Mama sebenarnya ingin mengontrakkan kalian rumah di Malang, kirimannya cukup, bisa mengunjungi Lia dan Tegar setiap bulan” Aku hanya bisa menghiburnya, “Tidak perlu seperti itu Ma, kita sudah cukup dengan kondisi ini” Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suara mamaku menangis di telepon. Aku tak kuasa berkata apa-apa, ini pertama kali aku mendengar wanita yang aku cintai menangis. Ketika suatu hari aku menyempatkan untuk pulang, mamaku bercerita, “Mama itu sering terpikir, apa kiriman mama disana nanti kurang, kalau anak-anak Mama kelaparan disana nanti bagaimana?” sampai disini, baru kali ini kulihat air mata mulai menetes dari sudut matanya. mamaku Menangis!!! “Gimana Tegar di Malang, makannya apa cukup, gimana uang-uangnya, dan lain-lainnya”. Tak sampai terisak memang, namun baru kali ini kulihat air mata itu meluncur dari sudut matanya. Suaranya pun menjadi seolah sangat berat, dan agaknya tangis seperti ini pun berulang lagi dalam waktu-waktu lainnya. Agaknya ujian terberat bagi mamaku bukanlah tentang penyakitnya, melainkan ketika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk putra-putrinya. Tak ada pesanan berarti tak ada pemasukan, dan tak ada pemasukan berarti pula tak ada uang saku untuk putra putrinya. Sungguh wajar ketika mama pun sering menangis, memikirkan apa yang bisa dimakan oleh putra-putrinya. Pernah suatu ketika, aku dan sahabatku di kampus menang dalam sebuah lomba yang mengharuskan kami untuk berangkat ke Jakarta. Uang hadiah yang didapat memang bisa aku bilang cukup besar, namun sayang seluruh ongkos transport, dll harus kami tanggung sendiri. Namun untung saja sahabatku ini mau untuk meminjamkan uangnya sebagai ganti ongkos sampai hadiah kami terima. mama sebenarnya tahu akan hal ini, namun menjelang keberangkatanku, beliau tetap mengirimkan uang sejumlah 300 ribu. “Untuk uang saku”, begitu kata beliau. Saat itu aku tak sempat berpikir apapun tentang uang saku. Jaminan utang transpor dari temanku ditambah tambahan uang saku dari fakultas tentulah lebih dari cukup. Aku pun juga tak sempat berpikir, darimana mamaku dapat uang tersebut. Dan sepulang dari Jakarta, aku pun antara marah dan menangis mengetahui uang 300ribu tersebut dari pinjaman ke tetangga kami. Ya, antara marah dan menangis. Menangis dan marah karena hanya agar tak khawatir ada apa-apa denganku di Jakarta, mama hingga rela meminjam uang ke tetangga. Sungguh seumur-umur, belum pernah keluarga kami meminjam uang ke orang yang tak ada hubungan darah dengan kami untuk masalah-masalah seperti ini. Namun Alhamdulillah, Allah memberikan badai, namun ia juga memberikan mentari indah beserta pelangi sesudahnya. Allah memberikan tetes air mata, namun ia juga memberi kita senyum yang cerah. Kondisi tersebut tak terlalu lama. Seiring membaiknya mama, ekonomi keluarga pun akhirnya membaik. Beberapa bulan setelah mama mulai bisa berjalan, Papa mulai dikembalikan ke pekerjaannya, Kini mama sudah bisa dikatakan lumayan jauh lebih sehat, dan ketika Papa pun sudah mulai bekerja lagi meski tanpa sebuah jabatan, kini senyum itu mulai sesekali kulihat ada. Senyum itu mulai ada ketika mama mulai mendapatkan hiburannya lagi dengan televisi, dengan kedatangan putra-putrinya, atau setidaknya bagaimana ia bisa ikut melantunkan bait-bait syair nasyid kesukaannya, “Rembulan di Langit Hatiku” setiap aku memutarkan untuknya. Senyum yang sama ketika mama mulai bisa beraktivitas, dalam arisan, dalam pengajian rutin pekanan di perumahan, dan sederet aktivitas lainnya. Meski senyum itu tak lagi secerah dahulu sebelum sakit, setidaknya senyum itu mulai ada lagi. Meski demikian tak jarang, mama jadi bersikap berlebihan dalam segala sesuatu. Bagaimana beliau memberi nasihat yang bagiku kadang berlebihan, Terkadang pula beliau sering mengulang apa yang sudah beliau ceritakan sebelumnya. Ah mama, sosok manusia yang bagiku sungguh luar biasa. Amatlah wajar jika Islam menempatkan bahwa Syurga ada di telapak kaki Ibu, amat wajar pulalah jika durhaka pada orang tua tergolong dalam dosa terbesar kedua setelah syirik. mama, maafkan aku. Ketika engkau menangis didepanku, aku tak kuasa untuk ikut menangis. Ketika air mata itu keluar dari pelupuk matamu, aku justru coba untuk tetap tegar tersenyum meski dalam hati aku menangis. Tegar sebagaimana engkau memberiku nama itu. Semata-mata agar kau tak tambah sedih melihat putramu juga ikut menangis. Namun sungguh mama, ketahuilah bahwa ketika aku berada disini dekat denganmu, ataupun ketika aku jauh darimu, aku senantiasa mengangis untukmu. mama, aku berjanji akan memberikan segala hal yang terbaik untukmu, Aku tak ingin mengecewakanmu, aku tak ingin membuatmu bersedih. Semata-mata agar aku setidaknya bisa berkata –meski lirih,meski dalam hati– “Jangan Menangis, Ma...” Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku, Kasihilah dan Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba ketika masih kecil. Amin… Ponorogo, 11 Februari 2008