Harga Sebuah Istiqomah

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar yang betul-betul mengejutkan. Salah seorang kawan SMA dulu, dikabarkan sudah berbadan dua, alias hamil di luar nikah.harga price

“Kurang tahu ya, sekarang katanya dia diterima kuliah di Universitas X”, seorang teman memulai pembicaraan., “Tapi katanya sekarang ia sudah dobel”. Mendengar dobel, pengganti kata hamil membuatku heran. “Ah masak sih, trus…?”, tanyaku lanjut. “Ya, maklum lah, sejak SMA saja pergaulannya saja sudah kelihatan bebas. Pada awalnya aku juga nggak percaya, tapi setelah dengar sendiri dari Si Anu, temen lengketnya dia, aku baru percaya..!!”, sambung temanku dengan semangat. Saya benar-benar tidak menyangka akan mendengar hal ini pada awalnya. Begitu cepat manusia bisa berubah. Sebenarnya tak masalah sih ia hamil saat kuliah, namun itu andaikata ia punya suami yang sah disana. Suasana kehidupan bebas yang dijalaninya tak urung membuatku “maklum” akan hal itu. Meski sebenarnya hal ini tak boleh menjadi dalih atasnya. Disela-sela acara Ospek Kampus yang padat, Mas Sukri, salah seorang aktivis BEM, bertutur kepada kami, “Kalian tahu nggak sebenarnya apa hal yang seharusnya paling membahagiakan bagi kita…??” “Ketika kita membantu orang lain..??”, jawab salah seorang peserta tak yakin akan jawabannya. “Ya, itu juga benar, itu salah satunya, namun Kalian tahu nggak hal yang sungguh paling membahagiakan  kita..??”, Syukri berhenti sejenak, “Ketika kita bisa istiqomah dalam kebaikan.” Istiqomah, bisa diartikan untuk untuk tetap berada di jalan yang kita geluti sekarang. Untuk bisa bertahan terbang tinggi di tengah terpaan angin yang kuat sekalipun. Untuk memiliki sebuah laying-layang yang kokoh beserta talinya yang kuat. Hal yang sulit ditemukan belakangan ini. Teringat saya kan sebuah cerita di blog milik pak Suaidi, salah seorang guru saya, sebuah cerita yang bagi saya cukup membuat saya merenung. “Singkat cerita ada fulanah yang dulunya aktivis dakwah. Namanya aktivis dakwah tentulah menutup aurat mereka, berjilbab, berpakaian sopan, dan seterusnya. Setelah lulus S1, semuanya berpisah dan berpencar untuk mencari maisyah (kerja-red) sendiri-sendiri. Singkat cerita lagi, teman-teman seangkatan itu mengadakan sebuah reuni akbar. Dan ternyata dilihatlah sama kawan-kawan seangkatan beliau yang juga dulu pernah menjadi aktivis juga. Apa yang terjadi, si fulanah ini ternyata sudah 360 derajat berubah. Dia kini sudah tidak mengenakan kerudung alias buka jilbab dan lebih suka pakai rok mini. Karena memang dia bekerja menjadi seorang pramugari. Salah seorang muslimah temannya coba untuk memberanikan diri bertanya kepadanya yang sebelumnya sempat menjadi pembicaraan kawan-kawannya yang masih pakai kerudung itu. Apa coba jawab fulanah? “Apakah dalam setiap doa, kalian mendoakanku utk tetap istiqomah?“. Seluruh kawan-kawannya pun spontan terdiam. Lalu fulanah pun melanjutkan perkataannya, “… padahal setiap dalam sholat, aku mengingati kalian dan mendoakan agar kalian bisa tetap istiqomah.” Spontan saya jadi merenung, jangan-jangan selama ini saya lupa mendokan orang-orang disekitar saya?   Malang, 3 Januari 2006 revised in 2011