Membeli Kekhawatiran

Kehidupan dan aktivitas kampus yang lumayan padat, mau tak mau mendorong saya ingin segera memboyong Sepeda Motor ke Malang. Apalagi dengan pertimbangan bahwa di rumah, di Ponorogo sudah tidak ada lagi yang menggunakan motor tersebut. Ibu tidak bisa mengendarai sepeda motor, Ayah sudah ada sepeda motor dinas, sedangkan saya dan kakak sama-sama kuliah di Malang.membeli Ditambah lagi pertimbangan bahwa tempat kos kakak dan saya tidak terlalu jauh, sehingga otomatis bisa dipakai bergantian bila diperlukan. Akhirnya diputuskanlah saat itu, bahwa sepeda motor keluaran tahun 2001 itu akan diboyong ke Malang .Namun agaknya hambatan ada saja. Banyak teman yang menyayangkan begitu mengetahui bahwa kemungkinan besar motor tersebut akan dikirim via paket atau kurir. “Kok nggak dikendarai saja..???, kan bisa lebih murah. Lagian lho nggak habis bensin banyak kan..?? 20 ribu lho, udah nyampek…!!! daripada dipaketin..?? 200 ribuan. Ponorogo Malang, masak nggak berani..??” tantang seorang teman. Terus terang, dalam hati saya pun membenarkan. Memang sejak awal, saya mengusulkan bahwa lebih baik dikendarai saja, karena toh nggak akan habis bensin banyak jika dibandingkan dengan biaya dipaketkan. Waktu perjalanan pun hanya 6 jam. Namun agaknya orangtua berkata lain. Ibu lebih menghendaki apabila motor tersebut dipaketkan saja. Beliau khawatir jika nanti terjadi apa-apa di jalan. Dalam hati, meski agak kurang setuju, namun tak urung saya pun menurut juga. Maka pada suatu akhir pekan, saat kegiatan dikampus mulai agak mengendor, saya pulang. Pada awal-awalnya saya masih sempat terpikir untuk mencoba sekali lagi bernegoisasi dengan ibu, namun akhirnya tak urung saya menyerah juga. Alasan bahwa saya bisa, dimentahkan oleh ibu. Ditambah lagi bahwa syarat bahwa saya diperbolehkan jika ada teman yang juga ikut, sehingga bisa bergantian tidak terpenuhi. Maka jadilah, motor tersebut harus dipaketkan via kurir. Jadilah keesokan paginya, saya dan ibu pergi berputar-putar keliling kota untuk mencari jasa paket yang mau menerima pengiriman untuk sepeda motor. Akhirnya ketemu juga disebuah jasa paket titipan kilat, yang mau menerima pengiriman sepeda motor. Biayanya waktu itu sekitar 170 ribu. Sebuah biaya yang sebenarnya boleh dibilang lebih murah dari survey sebelumnya di jasa paket yang lain yang berada di kisaran 200 ribu-an keatas. Sebelum transaksi selesai dan uang dibayarkan, Seperti biasa terjadi dialog antara ibuku dan petugas administrasi paketnya. Kebetulan petugas tersebut juga wanita yang sebaya dengan ibuku, sehingga ia mudah akrab dengan ibuku. Dan mulailah pertanyaan dan percakapan basa-basi dari dua orang yang mulai berkenalan. Percakapan tersebut terus berlanjut hingga …” “Iya Bu, sebagai orang tua khan khawatir kalo anaknya ada apa-apa di jalan.”ucap ibuku saat membayar uangnya. “Ah, nggak sih bu, sebenarnya bisa kok saya kendarai”, jawabku agak menyangkal. “Ibu cuman terlalu khawatir..!!”, lanjutku seolah menaikkan harga diri. “Mas..!!”, ibu tersebut menegurku, “Yang Begitu itu, bukan pada masalah sampeyan bisa atau tidaknya mengendarai, tapi ini lebih pada kasih sayangnya ibu sampeyan, bukan begitu Bu..??”, tanya beliau pada ibuku. Aku hanya diam, kupikir-pikir ada benarnya juga. “Ibu sampeyan itu khawatir kalau nanti di jalan terjadi apa-apa pada sampeyan..!!” “Betul Bu..”, Ibuku membenarkan, “Sebagai orang tua, kita kan lebih baik memilih kehilangan uang nya daripada khawatir-khawatir anaknya ada apa-apa di jalan nanti..” “Degg….!!!”, jawaban ibuku kontan membuat mulutku terasa tercekat. Hampir-hampir tak bisa kubayangkan betapa aku malu pada ibuku sendiri. Betapa, ketika suasana tanggal tua seperti sekarang, yang mana untuk kepulanganku saja ibu harus mengambil uang dulu di bank, Ibu masih sempat-sempatnya untuk mengatakan seperti itu. Apalagi untuk sekedar, menghilangkan kekhawatiran tentang perjalanan anaknya. Ah, ibuku membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri. Akhirnya diputuskan saat itu juga, sepeda motor tersebut, dipaketkan, dan keesokan harinya saya pun balik ke malang dengan travel. Itupun karena dipaksa lagi, dengan alasan saya bawa laptop. Padahal sebelumnya saya ingin naik bus yang biayanya lebih murah. Ketika sudah setengah perjalanan, karena tak kuasa lagi aku menahan emosi, dan saat itu pula…. Seorang laki-laki seperti saya akhirnya menangis. Sungguh menangis, betapa besar sebenarnya kasih sayang seorang bernama ibu. Untung saja, suasana travel agak gelap dan lumayan kosong, ,sehingga tangisanku tak terlalu menarik banyak perhatian. Dalam perjalanan pula, seorang teman bertanya melalui sms-nya, apakah ia harus izin ibunya dulu untuk ikut dalam sebuah acara penting yang mengharuskannya keluar kota. Tanpa pikir panjang, langsung kujawab “Ya, antum sebaiknya ijin dulu,” balasku dalam SMS nya. Dan setelah itu, dalam gelap nya suasana travel, dan diantara deru mesin mobil dan lalu lintas, air mataku pun berlanjut. Sebuah tangis bahwa ibuku rela untuk membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri. Ya, membeli kekhawatiran, kekhawatiran terhadap hal yang belum terjadi. Ya Rabb, betapa besar kasih sayang dan karunia dari Ibuku, dan betapa kecil jasa hamba-mu ini membalas jasa beliau. Sejak peristiwa itu, ketika teman-teman menanyakan kenapa kok tidak dikendarai saja, saya pun menjawab singkat, “Mungkin kamu belum pernah merasakan betapa besar kasih sayangnya ibumu”, dan mereka hanya bisa diam.