“karya Masterpiece tak datang setiap hari (Anonim)

Pak Marwan adalah seorang perajin sepatu ternama di Blitar. Tak sekedar ternama karena kualitas sepatunya, namun juga karena beliau merintis dan menjadikan kampungnya yang biasa menjadi sebuah industri sepatu. Pak Marwan dahulu hanya anak tukang sol sepatu. Beranjak dewasa ia bekerja di pabrik sepatu, menjadi perajin sendiri, hingga merintis sebuah desa yang sepi menjadi kampung sepatu. Tak sekedar itu, pertemuan dan perceraian dengan istrinya pun tak lepas dari sepatu. Singkat kata, Sepatu adalah hidup Pak Marwan itu sendiri. Sepatu adalah denyut nadinya. Tak heran jika Alin -anak angkat pak Marwan- sangat terkejut ketika ayahnya berkata bahwa ia ingin pensiun. Pak Marwan ingin berhenti membuat sepatu! Satu keinginan yang sangat tak wajar bagi siapapun yang mendengarnya. Terlebih tak ada satupun dari  orang terdekat pak Marwan yang tahu apa alasan sebenarnya. Sakitkah? Bosankah? Atau apa? Bersama tiga pegawai setia ayahnya, Alin berusaha membujuk Ayahnya, namun gagal.Alasan sebenarnya pun tetap tak ada yang tahu. Akhirnya dibuatlah perjanjian bahwa pak Marwan baru boleh pensiun setelah membuat satu sepatu terakhirnya, sepatu terbaik, paling spesial, dan paling fenomenal yang pernah dibuat seumur hidupnya. Sepatu masterpiece pak Marwan. Pak marwan setuju, dan karena ini sepatu spesial, ia ingin sesuatu yang spesial dari sepatunya. Ia tak ingin sepatunya spesial dari segi materi nilai jual. Setelah serangkaian usulan, diputuskan bahwa pak Marwan dan Alin akan mengikuti kisah para pemakai sepatu tersebut. Sepatu terakhir pun dibuat, calon penerima diseleksi, dan akhirnya diserahkan. Maka dimulailah kisah perjalanan dari sepatu itu sendiri. Ada tiga kisah yang sempat tertulis dalam novel ini. Kisah pertama bercerita tentang Mat Balon, seorang tukang balon keliling yang miskin dan pelit. Berlanjut ke kisah kedua tentang pak Wakimin, seorang guru pejuang yang diasingkan mengajar di desa terpencil. Kisah di novel ini ditutup dengan lika-liku seorang preman yang berubah jadi manajer restoran. Bagaimana kisah ketiganya? Berhasilkan Alin menemukan alasan pensiun Ayahnya yang sebenarnya? Ini adalah novel yang menceritakan perjuangan, kesetiaan, pengabdian, kerja keras, dan tentu saja... SEPATU!

Leave a Reply

Your email address will not be published.