Nyanyian Tengah Malam, Sebuah Kisah Inspiratif

Ketika banyak manusia terlelap, sebagian masih harus terbangun untuk mengais rezeki di jalanan. Ini bukan kisah horor, tapi kisah inspiratif tengah malam kisah inspirasiSemenjak SMA aku sudah mulai sering bepergian jauh sendirian. Ya, tak sendirian dalam arti sebenarnya, namun setidaknya dalam perjalananku tak lagi didampingi bersama orang tua. Ada saja perjalanan yang aku lakukan, entah karena harus lomba ke Yogya, Surabaya, bahkan pulang sendirian dari Jakarta pun aku sudah pernah aku alami. Berkat seringnya melakukan perjalanan jauh ini, aku yang dulunya sering mabuk perjalanan setiap naik bus, kini menjadi seolah kebal dan sembuh dari penyakit tersebut. Beranjak di waktu kuliah, karena lokasi kampus yang di luar kota, otomatis membuatku lebih sering melakukan perjalanan. Ponorogo-Malang, via jalur Surabaya. Dari hampir keseluruhan perjalanan tersebut, aku paling sering melakukan perjalanan di malam hari. Sederhana, untuk efisiensi waktu, begitu pikirku. Waktu siang cenderung bisa aku gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Sehingga dengan melakukan perjalanan malam, setidaknya aku bisa menghemat waktu. Perjalanan pulang, sekaligus memanfaatkannya untuk tidur, sehingga di lokasi, pagi harinya bisa langsung beraktifitas. Maka tak jarang, aku pulang dan sampai rumah pun malam hari. Jam 10, atau jam 12 sudah biasa. Bahkan belakangan pun kadang seringkali aku pulang pukul 2 atau 3 pagi, maklum dari Malang aku berangkat habis Isya’, perjalanan 6 jam, belum lagi sulitnya menunggu bis malam ke kotaku terkadang membuatku baru sampai dini hari. Selain itu, mungkin ada satu lagi alasan sekunder, kenapa aku lebih suka melakukan perjalanan malam hari. Pengamen jalanan! Ya, orang-orang yang mencari nafkah dengan hiburan jalanan-nya. Bukan masalah suka atau tidak suka dengan orang-orang ini, namun karena aku lebih sering tak tega terhadap mereka. Jika ada yang berkata bahwa menjadi pengamen itu cara mudah untuk mencari uang, kini agaknya aku sudah berubah pikiran. Siapa bilang mencari uang dengan mengamen itu mudah? Kini orang lebih “tega” untuk melambaikan tangannya daripada sekedar mengeluarkan uang seratus atau dua ratus dari saku mereka. Jumlah uang yang aku yakin tak akan membuat mereka jatuh miskin. Ah pengamen-pengamen itu, mereka hanya korban dari ketakberdayaan mereka sendiri. Pemerintah yang tak mampu menyediakan lapangan kerja memang boleh disalahkan, namun sikap menyerah para pengamen tersebut dan filosofi “daripada menganggur mending ngamen” yang terlanjur melekat, sudah seharusnya mereka sadari dan ubah. Ya, untuk masalah pengamen ini sering kadang aku banyak tak tega-nya. Karena selain sulitnya orang mengeluarkan sekedar receh, namun juga karena semakin banyak saja jumlah pengamen di negeri kita. Pernah aku coba menghitung, perjalanan 4 jam Ponorogo-Surabaya, dan aku hampir takjub melihat angka 9-10 di tanganku. Ya… ada sekitar 10 pengamen selama perjalananku, setiap satu pengamen turun di satu perempatan, kadang pengamen lain langsung naik dari perempatan yang sama pula. Tak heran orang-orang pun mulai malas untuk sekedar merogoh recehan mereka lagi.

***

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul 12 malam. Bis Restu yang aku tumpangi melaju pelan, mulai ke terminal kota Nganjuk. Saat itu aku tengah melakukan perjalanan malam untuk pulang ke kota Ponorogo seperti biasa.  Mataku setengah mengantuk, maklum ini perjalanan malam, Seperti biasa, bis kami langsung diserbu sederet pedagang asongan terminal Nganjuk. Andai ini siang hari, tentulah pedagang asongan itu akan lebih banyak lagi. Aku yang setengah mengantuk tak banyak menghiraukan mereka. Sempat terbersit ingin membeli sekedar jajan cemilan, namun kuurungkan keinginanku. Selain karena aku sedang ingin berhemat, aku sedang dalam kondisi sangat mengantuk-mengantuknya. Seperti biasa, pemberhentian di terminal Nganjuk dari arah Surabaya memang selalu lebih lama dibanding terminal lainnya . Entah karena menunggu bus jurusan sama datang terlebih dahulu, atau mungkin menunggu penumpang transit dari kediri. Begitu para pedagang asongan mulai sepi, sempat terpikir untuk melanjutkan saja tidurku. Toh perjalananku masih sekitar 2 jam lagi. Namun tak berselang lama, ada dua orang laki-laki naik yang kontan membuyarkan rasa kantukku. Aku tahu, mereka pengamen!, tapi jam segini? Kulirik jamku menunjukkan pukul setengah satu malam! Dan tak berselang lama, meluncurlah sederet suara khas pengamen jalanan. Jangan harap menemukan suara selevel Cat Steven, Sami Yusuf, ataupun Gito Rollies, karena untuk level penyisihan Indonesian Idol aja aku optimis mereka tak akan lolos. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka nyanyikan. Bukan karena deru mesin bus, namun karena suara pengamen itu yang memang tak jelas. Entah mungkin serak karena sudah malam, dan mengantuk, atau entah suara aslinya memang seperti itu. Tak seperti kebanyakan pengamen bus yang rata-rata menyanyikan dua lagu, mereka hanya menyanyikan satu lagu, dan itupun dengan suara yang tak jelas sama sekali. Dan seperti biasa, selesai menyanyi seorang dari mereka berjalan mendatangi satu persatu penumpang untuk mengumpulkan koin-koin receh dari penumpang. Sempat terbersit untuk tidak memberi, namun Ah jarang-jarang aku menemui pengamen yang berani seperti mereka. Berani karena tentu mereka tahu dalam jam-jam segini banyak penumpang yang sedang mengantuk-mengantuknya. Aku pun juga kasihan, penumpang bus tak banyak seperti perjalanan siang hari, tak banyak tentu yang memberi. Kurogoh sekeping uang 200 kembalian dari peron di Surabaya tadi dan kuberikan ke mereka. Namun untunglah, tak hanya aku yang memberi, beberapa penumpang yang masih terjaga pun juga ikut memberi. Mungkin karena pengamen ini satu-satunya pengamen yang ada di perjalanan malam kami semua, tak seperti siang hari yang hampir 20menit sekali seorang pengamen naik. Tak berselang lama, bus yang kutumpangi mulai berangkat, melaju pelan keluar terminal. Sempat kulihat  kedua pengamen tadi menghitung perolehan mereka. Tentu tak banyak, jangan harap dapat uang 5-10ribu seperti pengamen dulu-dulu. Setidaknya cukup untuk sekedar membeli kopi hangat agar tak mengantuk. Dan aku tersenyum ketika melihat salah seorang dari mereka memang membeli segelas kecil kopi. Mungkin sekedar untuk menjaga stamina sebelum menyanyi di bus berikutnya. Dalam hati aku bergumam, Ya Allah, hanya untuk mencari uang, hanya untuk menafkahi diri dan keluarganya saja seseorang sampai rela be”kerja” hingga larut malam seperti ini. Tak hanya pengamen itu saja, namun juga para pedagang asongan itu, mbok penjual kopi di terminal itu, dan sederet manusia yang menggantungkan nafkahnya dari hiruk pikuk dunia transportasi ini. Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat makhluk-makhlukNya, waktu untuk mengumpulkan energi lagi untuk keesokan harinya, kenapa seperti ini? Sempat pula terbersit Andai saat ini Umar yang menjadi pemimpin negeri, dan tahu di kota ini ada orang-orang seperti pengamen tengah malam tadi, aku tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan kepada Bupati, atau bahkan Gubernur Propinsi. Malam semakin larut, bus mulai melaju cepat, menyusuri jalan raya malam yang sepi. Meski tak urung pengamen-pengamen tadi mengganggu pikiranku, namun toh biarlah, setiap orang punya rejekinya sendiri-sendiri. Semoga kedepan tak ada lagi banyak pengamen seperti sekarang, bukan karena digusur atau dilarang, namun karena negeri ini semakin adil dan sejahtera, sehingga orang tak perlu lagi mengamen untuk mencari nafkah. Dan semoga, tak ada lagi nyanyian-nyanyian tengah malam seperti yang aku dengar malam itu… Insya Allah. Malang awal Maret 2008 sumber gambar dari sini

Toni Tegar Sahidi

check me di http://sepatuterakhir.com/tentang-toni-tegar-sahidi/

Has one comment to “Nyanyian Tengah Malam, Sebuah Kisah Inspiratif”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Siti Jamilah - December 27, 2015 Reply

    (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published.