Kutipan Novel Sepatu Terakhir, Bab Mbah Joy

Home  >>  Kutipan Novel Sepatu Terakhir, Bab Mbah Joy

MBAH JOY

  Namanya Mbah Joyo, namun berkat mas Slamet, beliau lebih populer dengan nama Mbah Joy. Bukan bermaksud mengejek, karena Mbah Joyo sendiri pun lebih senang dipanggil dengan nama itu. “Lebih keren, kayak anak-anak muda yang gaul”, ungkapnya. Beliau orang yang paling tua diantara kami semua, bahkan lebih tua dua belas tahun dari Ayah. Jika umur Ayah sekarang lima puluh tujuh, berarti umur Mbah Joyo sudah enam puluh sembilan tahun. Tiga tahun lebih tua daripada umur republik ini. Dalam usia seperti itu, sudah tak ada lagi satupun rambut hitam ditubuhnya. Meskipun tua, bukan berarti Mbah Joyo ini seperti bayangan kita kakek-kakek renta, yang  kesehariannya duduk di kursi roda menghabiskan hari-hari menanti malaikat maut menjemput. Atau seorang berjalan membungkuk dengan sebuah tongkat. Kesan seperti itu sama sekali tak melekat pada diri Mbah Joy. Andai tak ada uban dan keriput di wajahnya, kau tentu akan mengiranya masih berumur empat puluhan, atau lebih muda lagi. Diusianya yang senja, ia masih bisa berjalan tegap, kuat, dan mampu berlari cepat, meskipun tak bisa lama.  Benjolan-benjolan otot pun masih terlihat di lengannya, meski dibalut dengan kulitnya yang tak bisa menipu. Jika ditanya orang, apa sih rahasianya Mbah Joy biar tetap sehat, maka jawabannya akan selalu sama. “Saya sering olahraga trus suka makan buah dan sayur”, jawabnya kepada siapapun, termasuk aku. Tak hanya bentuk badannya yang tak nampak terlalu tua, bahkan secara penampilan beliau masih seperti anak ABG jaman sekarang. Amboi, sampai-sampai Mas Slamet menjulukinya “Kakek Gaul!”. Jangan membayangkan Mbah Joyo ini seperti orang jadul, dengan baju warna gelap, atau batik dengan sandal, yang kemana-mana suka mendengarkan siaran radio wayang, ludruk ataupun tembang-tembang jawa lawas pada umumnya. Ia kakek yang always “up to date”, alias modis. Jika bekerja, ia selalu mengenakan kaos distro yang aku yakin lebih keren dari kaosmu. Celana jeans yang lebih trendy dari punyamu, dan sandal Crocs!. Bawaannya pun bukan sekedar radio portabel, ataupun cantong pipa rokok dan kotak tembakau melainkan lebih dari itu. Jangan iri jika kuberitahu bahwa Mbah Joy ini kemana-mana selalu bawa iPod!. Aku yakin dari kalian yang membaca catatan ini pun belum semuanya pernah pegang iPod. Atau jangan-jangan tak tahu apa itu iPod. Tak cuman itu, ia pun rajin membuka internet di sebuah HP Touchscreen buatan korea. Yang dibuka bukan sekedar situs-situs berita macam detik atau republika, tapi lebih dari itu. Kegaulannya membuat kakek ini punya akun facebook loh!  Keren banget dah, banyak juga friendnya, meskipun dari keseluruhan friendlistnya, tak satupun yang seusia dengannya, maklum karena teman seusianya kalau nggak gaptek  ya artinya sudah tak lagi ada di dunia.  Meski tak lagi punya satupun teman yang sebaya, bukan berarti Mbah Joy jarang menulis status. Justru sebaliknya, bisa dipastikan setiap hari beliau akan membuat satu status, meskipun isinya bisa dibilang amat sangat tidak penting. Tak jarang statusnya bikin aku tak habis pikir, “Ini kakek-kakek, tapi kok semangat kenarsisannya mengalahkan anak muda”. Rupanya sekedar ber-”facebook” tak cukup layak baginya untuk mendapatkan status “gaul”. Suatu hari ia menyapaku dengan satu kalimat yang membuatku hanya bisa garuk-garuk kepala. “Assalammualaikum agan Alin!” Gedubraks! Rasa-rasanya langit pecah berkeping-keping ketika aku mengetahui Mbah Joyo ini ternyata sering ngaskus. Apakah agan-agan, eh maksud saya Anda-anda ini tak tahu Kaskus? (ingat ini kaSkus dengan S, bukan kakus). Sebagai pengantar, Kaskus (www.kaskus.us) adalah sebuah situs forum komunitas terbesar di Indonesia. Setidaknya itulah faktanya ketika catatan ini kutulis, dan sepertinya belum akan terganti selama lima tahun kedepan. Saat ini jumlah anggotanya sudah lebih dari 3 juta orang. Itu berarti sudah 1% lebih dari total populasi Indonesia. Sebuah jumlah dan persentase yang cukup besar untuk ukuran pengguna internet negeri ini. Di Kaskus, tongkrongan favoritnya ada dua. Yang pertama Fit & Healthy Lifestyle, dan yang kedua di forum Fashion. “Disini Mbah berbagi tips-tips biar tetap sehat dan segar kayak Mbah yang sudah  tua ini”, ceritanya padaku. “Kalau yang Fashion Mbah?”, tanyaku “Yang itu biar Mbah tetap up to date sama selera orang jaman sekarang” Dari statistik profilnya di kaskus, aku baru tahu bahwa Mbah Joyo ini sering berjualan via internet. Berbekal kamera HP dan kedekatannya dengan tetangga kami, mbah Joyo pun menawarkan dagangannya di FJB (Forum Jual Beli) Kaskus. Yang dia jual di internet bisa ditebak, apa lagi kalau bukan sepatu? Tapi uniknya ialah, bukan sepatu Ayah yang dijualnya di internet, melainkan sepatu produksi tetangga-tetangga kami. “Mbah-mbah, sampeyan itu karyawan pabrik sepatu AA, eh malah ngejual sepatu buatan tetangga?”, tanyaku sambil bergurau. “Lah mau gimana lagi mas Alin, sepatunya Bapak itu sepatu mahal semua, jumlahnya pun gak bisa banyak. Dari sehari produksi cuman dua puluh, itupun kebanyakan sudah dipesan orang jauh-jauh hari. Kalau Mbah mau jualan dalam jumlah banyak, ya mau nggak mau ngejual barang tetangga. Toh Mbah juga sudah minta ijin ke Bapak”, ujarnya enteng. Aku hanya geleng-geleng, meski tua kegiatannya justru lebih enerjik daripada anak-anak muda jaman sekarang. Dari hasilnya berjualan di internet, Mbah Joy bisa mengumpulkan uang yang terkadang bahkan lebih banyak dari sekedar menjadi pegawai Ayah. Tapi tetap saja ia bekerja kepada Ayah. Barangkali karena ia seperti pak Kus, merasa Ayah berjasa besar dalam hidupnya, sehingga loyalitas adalah bayaran mutlak yang sepadan untuk itu. Atas aktifitasnya yang masih tetap bekerja di keras meski usianya sudah tua, pernah satu waktu aku bertanya padanya. “Mbah Joy, panjenengan itu sudah tua, tapi tetep saja cari uang padahal gak pernah dipakai, Ya mbok menikmati masa tuanya gitu lho mbah”, “Lho, Mbah sudah menikmati masa tua Mbah kok” “Mana? Kerja terus gitu yang Alin lihat?”, tanyaku. “Justru itu nak Alin, mbah itu merasa nikmat kalau bisa bekerja keras banting tulang, bukannya nganggur leyeh-leyeh ataupun foya-foya sampai nunggu dijemput malaikat maut. Bukan begitu toh?” Mas Slamet yang juga ikut mendengar obrolan kami pun ikutan nimbrung. “Terus uang yang dikumpulin selama ini buat apa Mbah? Masak dikumpulin terus gak dipake? Masak mau dibawa ke kuburan buat nyogok malaikat?”, candanya.. “Yaelah, emang malaikat bisa disogok?”, tanyaku sambil tertawa. “Hmm... semacam bisa”, jawabnya sambil mengelus-elus janggutnya. Mas Slamet yang maksud awalnya hanya bercanda, spontan kaget keheranan. “Serius mbah? Bisa?” “Ya bisa, cuman gak seperti persis kayak dibayanganmu yang uangnya dibawa mati, atau kayak di film mandarin yang uangnya nantinya dibakar buat nyogok malaikatnya. Kalau yang ini gak bisa, karena satu hal, Rupiah kita tak laku buat malaikat”,jelasnya panjang lebar. “Lah emang malaikat pakai mata uang apa Mbah? Dolar? Yen? Atau Euro?”, tanya Mas Slamet penasaran. “Ya jelas bukan Met, Malaikat mata uangnya cuman satu, PAHALA”, jawab Mbah Joy keras-keras. “Tempat penukarannya sebenarnya ada banyak Met, bisa di masjid-masjid, di panti asuhan, pasar, sekolah, jalan atau dimanapun. Cara nukarinnya gampang, tuh uang pakai aja buat beramal” “Oalah gitu toh maksudnya?”, mas Slamet manggut-manggut. “Ya gitu Met, kalau kita pahalanya banyak, Allah bakalan ridho, insya Allah malaikat-malaikat yang kita temui di akhirat nanti bakalan senang ke kita, gitu yang Mbah maksud “nyogok” malaikat. Bukan begitu mas Alin?” tanyanya sambil menoleh ke Arahku. “Inggih Mbah”, jawaku sambil tersenyum. Ada-ada saja Mbah Joyo ini berfilosofi. “Nah gitu Met, dan sebenarnya gak usah jauh-jauh kalau mau nukarkan kurs rupiahmu. Lewat Mbah juga bisa, tinggal kamu traktir aja Mbah makan bakso siang ini”, ujarnya sambil mengedipkn mata ke arah mas Slamet. “Walah, ujung-ujungnya minta traktir”, ujar mas Slamet sambil ngeloyor pergi. Mbah Joy memang orang yang dermawan. Uang hasil berdagang di internet, sebagian besar ia gunakan untuk disumbangkan. “Toh saya sudah tua, juga gak punya keturunan, buat apa nyimpan uang banyak-banyak?” Sebagian lainnya ia simpan, ia tabung untuk membeli barang-barang “gaul”nya, termasuk iPod tersebut. Ah dasar Mbah Joy, tak cukup bekerja keras, ia pun orang yang religius dan filosofis. Tapi aku bersyukur, meski penampilan dan tindakannya melawan arus usianya, setidaknya Mbah Joy ini orangnya normal. Tak terlalu serius macam pak Kus, namun juga tak terlalu melucu macam mas Slamet. Mbah Joy ada di pertengahannya secara sempurna, dan bagiku itu adalah definisi “normal”. Tapi senormal-normalnya orang, ia pastilah tetap punya satu keunikan, dan menjadi “Kakek Gaul” adalah keunikannya. *** Mbah Joy bergabung dengan Ayah di tahun pertama usaha itu dirintis. Artinya diantara pegawai lain saat ini, Mbah Joy yang paling tua. Baik tua dari segi usia, maupun dari segi masa kerja. Selain tua, Mbah Joy ini termasuk pegawai teladan, selalu datang paling pagi, dan pulang paling sore. Bahkan setelah kejadian perceraian Ibu dan Ayah, Mbah Joyo ini lebih sering tinggal di rumahku daripada pulang di rumahnya. “Sekalian nemeni Bapak mas, biar ada temannya disini”, jelasnya. Toh Mbah Joy memang hidup sebatang kara. Ia sudah tak lagi punya keluarga. Istrinya sudah lama meninggal di tahun enam puluhan saat melahirkan anaknya yang pertama. Anak satu-satunya tersebut pun akhirnya juga meninggal diakhir tahun delapan puluhan karena sebuah kecelakaan motor. Aku yang sejak kecil sudah tak lagi punya kakek, akhirnya menganggap Mbah Joy ini tak ubahnya seperti kakekku sendiri. Dari cerita-cerita yang kubaca di majalah tentang relasi kakek dan cucu, aku pun minta diceritakan dongeng sebelum tidur, demikian pula pintaku pada Mbah Joy. Tapi dasar “kakek gaul”, bukannya dongeng cerita rakyat, wayang, atau semacamnya khas dongeng orang tua jaman dulu, tapi sesuatu yang jauh lebih modern daripada itu.  Dongengnya selalu berkisar seputar ilmu pengetahuan populer. Macam-macam, jika tengah ingin mendongeng yang indah-indah ia akan bercerita tentang kelinci, keanekaragaman alam, atau penguin-penguin di kutub selatan. Jika ingin serunya petualangan, ia akan bercerita tentang air terjun malaikat di Venezuela, tentang gua terdalam di meksiko, sejarah penemuan pesawat hingga Amelia Earhart wanita pertama yang melintasi Atlantik sendirian dengan pesawatnya, atau sir Edmund Hillary si penjelajah Everest. Kalau ingin mendongeng seram, bukannya berkisah tentang kuntilanak, tuyul, genderuwo dan semacamnya. “Itu cerita yang hanya membuatmu jadi penakut”, katanya. Jika ingin suasana seram, Mbah Joyo akan bercerita tentang makhluk-makhluk misterius dan urban legend di seluruh dunia. Mulai monster loch ness, yeti, bigfoot, atau bahkan cupacabra dan hantu-hantu yang tak ada di Indonesia. Ketika ia sudah “kehabisan hantu” untuk cerita seramnya, Mbah Joyo akan bercerita tentang wabah hitam Eropa, Flu spanyol, virus Ebola, bom nuklir, perang dunia pertama, dan bahkan senjata biologi.  Serius! Kakek mana di atas planet ini yang mendongengkan seorang anak kecil cerita-cerita seram macam ini? Semua cerita tersebut ia kemas dengan tokoh-tokoh yang cocok untuk anak kecil seumuranku. Mulai dari ilmuwan super bak Tony Stark di Iron Man, atau robot-robot cerdas. Suatu ketika aku ingin mbah Joyo cerita soal Arjuna, Gatotkaca, dan semacamnya. Tapi rupanya wayang yang diceritakannya agak nyeleneh dibandingkan yang diajarkan guru bahasa daerahku. Arjuna dalam ceritanya adalah seorang profesor di Pakistan yang tampan dan cerdas dengan wajah mirip-mirip Amitabh Bachchan. Dalam ceritanya pula Arjuna ini tampan karena ia menjaga benar tubuhnya, suka olahraga, makan sayur dan buah, dan tak kalah penting - facial! Wajahnya juga cerah karena suka menjaga wudhu. Tapi Arjuna bukan sosok playboy seperti dalam cerita wayang, melainkan ia sebenarnya banyak ditaksir wanita, tapi ia tetap  setia dengan istrinya. Adapun Gatotkaca dalam ceritanya, adalah seorang dari Rusia bernama Georgiy Kazimir. Georgiy artinya pekerja bumi, Kazimir artinya perang dan damai. Menurutnya, lidah orang Indonesia yang suka keseleo akhirnya menyebutnya GargiKaza, lalu bertransformasi menjadi Gatotkaca. Sebagai seorang petani yang naik pangkat menjadi petarung tangguh, Gatotkaca punya tubuh yang tinggi besar. Ia sering fitness dan diet sehingga badannya kuat dan berotot. Bak superhero, Gatotkaca ini punya seragam supernya, sebuah baju full body armor berbahan Kevlar, bahan yang sama untuk membuat rompi anti peluru. Adapun kemampuan terbangnya karena profesor Arjuna membuatkan sebuah JetPack mini untuknya. Bersama Profesor Arjuna, Presiden Yudhistira, dan sederet tokoh Pandawa lainnya ia melawan Duryodana dan Kurawa lainnya dalam sebuah pertempuran besar, hebat, dengan senjata-senjata mutakhir. Tapi perangnya bukan di Bumi, “Pertempuran besar itu terjadi di sabuk Asteroid, antara Mars dan Jupiter” Ketika aku besar dan sering melihat film-film, barulah aku tahu cerita perang Baratayudha Mbah Joyo lebih mirip cerita-cerita Star Wars, atau Gundam 00. Rasa-rasanya cerita “Wayang Opo Maneh”-nya Sujiwo Tejo di sebuah harian nasional, kalah keren dan kalah seru dibandingkan Arjuna dan Gatotkaca versi Mbah Joyo. Aku yang masih kecil sempat berpikir, jangan-jangan Sujiwo Tejo ini belajar ndalang ke Mbah Joyo? Ugh, andai guru bahasa daerahku mendengar cerita Mbah Joyo, pastilah ia sudah pingsan di lima menit pertama. Akibat tak kuat mendengar versi lain Arjuna dan Gatotkaca ciptaan Mbah Joyo. Ketika aku tanya kenapa Mbah Joyo tak pernah sekalipun menceritakan dongeng-dongeng jaman dulu seperti cerita wayang yang asli, atau dongeng si Kancil, sambil mengelus-elus kepalaku, ia menjawab begini. “Mbah ingin kamu hidup di jamanmu nanti, bukan di jaman Mbah. Kalau Mbah cerita wayang, atau kancil, mungkin sekarang kamu yang kecil ini senang. Tapi cerita Mbah takkan bermanfaat banyak ketika kamu dewasa nanti. Malah bisa-bisa pengaruhnya jelek, masak ceritanya si kancil curi ketimunnya pak Tani? Bisa-bisa jadi koruptor kamu nanti”, jelasnya serius. “Bukan cerita itu yang penting, tapi pelajaran apa yang bisa kau ambil dari sebuah cerita, itu yang terpenting Nak”. Lanjutnya. “Gitu ya Mbah?” tanyaku yang sudah mengantuk. Mbah hanya mengangguk, sambil terus mengelus-elus kepalaku, membuatku tak sampai lima menit sudah terbuai mimpi. Dari yang aku sampaikan diatas, tentu kau pun bisa tahu bahwa Mbah Joyoku orang yang sangat kreatif. Ketika aku beranjak remaja, kutanya bagaimana caranya ia bisa sekreatif itu bercerita ataupun bersfilosofi sedemikian bijaknya, ia menjawabnya dengan dua kata sederhana. “Ini, dan ini”, ujarnya sambil menunjuk telinga dan dahinya. “Kau harus banyak membaca, semakin banyak membaca kau akan semakin pintar, pengetahuanmu semakin luas dan dari sanalah semua kreatifitas berawal.”, jelasnya sambil memegang kepalanya. “Tapi kau pun harus sadar bahwa sehebat apapun kerjanya, kita semua hanya punya satu otak. Karenanya kita harus mencari kemungkinan munculnya tambahan gagasan segar dengan cara mendengar gagasan orang lain. Jika kita mendengarkan seratus gagasan orang lain, berarti kita telah menngkatkan daya kreatifitas seratus kali lebih banyak”, tutupnya. Mbah Joyo memang orang yang kreatif, dan dongeng-dongeng yang dikisahkannya telah menginspirasi beberapa cerpen dan novel yang aku tulis. Ketika aku besar, dan tahu aku sering menulis cerita, ia hanya berpesan seperti ini. “Menjadi pendongeng itu pekerjaan berat lho nak Alin. Kita harus bertanggung jawab benar atas apa yang kita ceritakan. Jika cerita kita ternyata ngajarkan keburukan dan ditiru orang, kita juga bakal kena dosanya. Tapi sebaliknya, jika cerita kita ngajarin baik, insya Allah pahala itu pun akan ikutan mengalir seiring pembaca yang menerapkannya.”, ungkapnya bijak. Aku mengangguk, Semenjak itu, aku pun lebih berhati-hati dalam menulis cerita apapun!  

 

 

One Comment so far:

  1. daud abdul fathony says:

    walaupun bgitu tetap ok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>