Gitar Dua Belas Senar

Dua belas dawai (senar) di gitar seorang pengamen malang-surabaya ini rasanya masih tak cukup menggambarkan seberapa inspiratif ia, dengan kisahnya berikut. gitar 12 senarSEBUAH  CERITA Jarak perjalanan bus dari surabaya ke Malang tak sampai 96 Km. Biasanya dalam rentang perjalanan 2 hingga 3 jam tersebut, maksimal hanya 3 pengamen yang naik. Kalau dulu kadang hanya satu atau dua pengamen. Namun hari ini barangkali hari spesial buat para pengamen. Sehingga tak kurang dalam rentang jarak tersebut ada 6 pengamen yang naik di bus yang kami tumpangi. Saya yang berkali-kali naik moda transportasi kelas tiga, tentu tak lagi asing dengan yang namanya pengamen. Apalagi melihat jumlah 6 dalam jarak yang sebegitu dekat, ah ini pun juga tak asing lagi. Dan sebenarnya pula saya tak akan menuliskannya disini jika hanya terkait perbandingan jumlah dan jarak pengamen. Mau ecek-ecek, mau gitar, mau keroncong, atau sekedar pantun bahkan shows jalanan bagi saya semuanya pernah, dan biasa. Dan saya rasa tak perlu saya menuliskan pengalaman pengamen jalanan dalam bentuk tulisan ini.... Andai tak ada orang tersebut. Setiap pengamen tak ada nama, demikian pula dengan orang ini. Maka wajar jika ia pun tak mengenalkan namanya. Ia naik di terminal Pandaan dari pintu belakang bus, pintu favorit para pengamen. Bus pun melaju, dan tak sampai 5 menit kemudian pengamen ini naik ke atas “panggung”. Oh ya, dia pengamen ke lima yang naik di bus kami. Pengamen sebelumnya baru saja turun belum lama lalu, dan aku tahu dalam ketatnya persaingan “industri” hiburan jalanan, pengamen kelima ini tentu tahu akan hal ini. Sepintas tak banyak yang spesial dari orang ini, seorang pria paruh baya dengan gitar di tangannya. Satu-satunya ciri yang agak unik barangkali pria ini mengamen layaknya pergi ke kantor. Bagaimana tidak ia berkemeja, celana panjang dan bersepatu. Kemejanya bak kemeja pegawai kantoran, lengan panjang warna merah muda. Baju dimasukkan rapi, bersepatu dan mengenakan sabuk. Mahasiswa kampus saya dijamin kalah perlente dengan orang ini. Andai ia pakai dasi barangkali makin lengkap penampilan kantorannya. Oh ya, dia juga memakai peci bundar. Andai tak ada gitar ditangannya, tentu ia akan mirip dengan penampilan guru agama. Ah rupanya keunikannya tak berhenti sampai disitu. Kali ini ada pada gitarnya, gitar pengamen itu lebih tak mirip seperti gitar bagiku, mengingat bentuknya yang seperti buatan sendiri dan juga warnanya yang terkesan dicat secara asal. Dan rupanya kali ini ada sesuatu yang bagiku “tak biasa”. Setelah kuamati, ternyata gitar tersebut memiliki dua belas senar/dawai!. Saya hanya orang awam biasa, bukan musisi seperti istri saya. Saya juga tak bisa main gitar layaknya ayah saya, tapi yang saya tahu gitar dengan komposisi 12 senar seperti ini memang bukan gitar yang umum. Teman-teman saya dari SMP hingga kuliah, setahuku tak ada yang gitarnya sampai 12 senar seperti itu. Langsung saja, maka mulailah penampilan ke-lima di bus ini. Seperti pengamen lainnya, ia memulai dengan sepatah dua katah pengantar sederhana, tanda masih adanya adab kesopanan meski hidup di dunia jalanan. Perlahan ia mainkan gitarnya, tapi ups, sepertinya ada nada yang tak tepat, ia setel sebentar gitar dua belas dawainya. Setelah dirasa pas, barulah ia memainkan gitarnya lagi. Dan langsung saja, ia pun menyanyi. Dan lagi-lagi tak seperti kebanyakan pengamen lainnya, pengamen ini menunjukkan profesionalitasnya. Suaranya Merdu! Ini bukan merdu karena nada fals yang tertutupi suara laju bis yang bising, ini merdu yang memang merdu. Meski bagiku rada lirih, tapi dalam skala 1 hingga 10, saya berani memberinya nilai 8 untuk pengamen ini. Aku membatin, suara seperti beliau barangkali lebih pas jika diikutkan lomba macam Suara Indonesia Trans TV, dan bukan menyanyi jalanan seperti ini. Dengan mata terpejam ia tampak begitu menghayati apa yang dinyanyikannya. Nada demi nada ia lantunkan dari mulutnya, berpadu denting gitar dua belas dawai, yang memang sedikit berbeda suaranya dibanding gitar biasa -lebih ngejreng-. Andai ini konser betulan, pengamen ini bak artis utama yang memang selalu dipasang di akhir-akhir konser. Lagu pertama yang ia nyanyikan adalah sebuah tembang lawas, -orang bilang tembang kenangan-, begitu pula dengan lagu kedua -juga tembang kenangan-. Selesai lagu kedua, sempat aku pikir ia kan berhenti, karena setahu saya hampir semua pengamen jalanan -sehebat dan sekeren apapun dia- maksimal hanya menyanyikan dua lagu. Tapi pengamen ini rupanya berbeda, ia menyanyi lagi, kali ini lagu Seribu Kota, alias Sewu Kutho-nya Didi Kempot versi bahasa Indonesia. Ah, lagu bonus, pikirku. Namun selesai lagu ketiga, rupanya masih ada lagi. Kali ini sebagai lagu penutup -katanya- sebuah tembang religi yang isinya sebuah doa. Total 4 lagu sudah yang ia lantunkan. Seingat saya, dari sekian ratus pengamen bus yang pernah saya temukan, pengamen ini adalah pengamen kedua yang menyanyikan lagu sebanyak itu. Hampir semua, biasanya rata-rata hanya dua, atau bahkan satu lagu langsung selesai. Usai menyanyi lagu keempat, ia mengucapkan salam penutup, seperti biasa ia maju kedepan bus, dengan sebuah kantung ia hendak mengambil apa yang diberikan para penumpang atas hiburan singkat yang ia berikan. Sambil berpegangan pada bangku bus, satu demi satu bangku ia datangi, tak peduli bangku tersebut kosong sekalipun!, ia tetap berhenti sejenak, berharap ada tangan-tangan yang bermurah hati memberikan sesuatu di kantongnya. Ya, ia berhenti sejenak di bangku yang satu deret itu tak ada penumpangnya seorangpun! Dan bahkan bangku yang ada penumpangnya, ada yang justru ia lewati begitu saja. Pengamen yang Aneh? Tidak juga, mengingat pengamen yang satu ini ternyata buta. Buta yang sebenarnya, bukan buta yang dibuat-buat sambil mengernyitkan mata mengintip, ataupun pakai kacamata hitam yang dilakukan beberapa “oknum”. Tidak, ia buta yang sebenarnya dan tak sedikitpun ditutupinya, mata yang terpejam erat yang tampak seperti menghayati ketika menyanyi itu, memang buta seluruhnya. Penampilan perlente, dengan gitar dua belas dawai, bersuara merdu, dan sekarang membawakan empat lagu. Tidakkah ini diatas rata-rata menurut Anda? Jika tak cukup, maka saya tambahkan bahwa pengamen yang naik bus ini seorang tuna netra. Saya tahu ada tukang pijat tuna netra, ada pula pengemis tuna netra -baik yang dipasar ataupun yang berjalan dituntun seseorang-, tapi itu semua ada yang mengantarnya menelusur jalan-jalan dan kompleks yang asing baginya. Tak seperti pengamen satu ini yang -setahuku- tadi ia naik bus seorang diri. Dan tentu akan turun seorang diri pula. Jangan tanya saya bagaimana susahnyanya tuna netra seperti beliau bisa naik bus ini, bagaimana pula -dalam dunia gelap tanpa cahaya- ia akan turun dari bus, ataupun nanti menyeberang jalan dan naik ke bus berikutnya. Jangan tanya saya! karena saya juga benar-benar tak habis pikir! Pengamen dua belas dawai ini turun di Purwosari, meninggalkan saya yang tetap tak habis pikir bagaimana caranya ia tadi naik, dan nanti akan naik di bus berikutnya lagi. Tiba-tiba dalam hati saya jadi merenung, Tak peduli seperti apa kondisi mata Anda, seminus apapun, sebuta warna apapun, katarak, atau bahkan se-juling apapun mata Anda, Sampai Kapanpun, bisa melihat adalah sebuah Anugerah. Pertanyaannya sekarang, seberapa sering Anda mensyukurinya? Malang, 26 Februari 2011   gambar dari http://guitar.lovetoknow.com

Toni Tegar Sahidi

check me di http://sepatuterakhir.com/tentang-toni-tegar-sahidi/

Has one comment to “Gitar Dua Belas Senar”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Nada azzahra - November 20, 2014 Reply

    kerennn (y) ceritanya….
    menceritakan tentang pengamen….
    dan dia,,seperti orang kantoran yang memakai kemeja,,lengan panjangnya berwarna merah muda..
    baju di masukkan rapi,bersepatu dan mengenakan sabuk…
    mahasiswa di kampuspun dijamin kalah perlenta dengan orang ini =D

Leave a Reply

Your email address will not be published.