Teman Yang Menghangatkan

Jika boleh dibilang, saya orangnya termasuk orak yang “Sok” dingin. Lebih tepatnya sih “Sok” tahan dingin. Tapi yah memang kenyataannya begitu. Pernah suatu ketika saya dan beberapa teman menginap di sebuah Villa di kota Batu. Ketika malam mulai menjelang, teman-teman lain sudah mulai menggigil kedinginan, mereka tidur melapisi diri mereka dengan jaket dan selimut tebal, eh saya malah enak-enak nya tidur tanpa jaket, tanpa selimut satu pun. Justru saya yang heran dengan mereka, Apa ya sebegitu dinginnya sih..??menghangatkan diri Pernah juga sebelumnya, di suatu malam berkabut, ketika teman-teman lain pesan teh hangat atau kopi hangat, Aku justru bertanya pada penjualnya, “Es Teh nya ada mas..??”. Ya..ya..ya… beginilah kalau orang memang suka Es. “Kamu kan sudah pakai jaket kulit…!!”, canda seorang teman disambut gelak tawa kami. Ya, postur tubuhku yang memang gemuk, dan barangkali itu yang membuat saya lebih tahan dingin. Tapi memang begitulah, saya memang suka dengan suasana dingin. “Wajar”, pikirku. Karena, toh bukankah dingin lebih mudah diatasi daripada panas?? kalaupun kita kedinginan, toh dengan jaket tebal plus selimut sudah bisa menghangatkan kita. Bayangkan jika suasana panas?? Es teh di depan kita, mandi, ataupun kipas angin, pun belum cukup untuk menahan laju keringat kita. Jadilah, pengalaman di villa temanku tersebut mendasariku untuk tidak membawa banyak penghangat tubuh. Di diklat kali ini, di kota yang sama, Kota Batu, saya pun memutuskan untuk hanya membawa selembar jaket. Tidak ada selimut, apalagi selimut tebal. Dan agaknya memang begitulah kondisinya. “Tempat seperti ginian, masak sih dingin..??”, pikirku. Kami tidak berada di lereng gunung, apalagi di puncak. Hanya sebuah tempat di tengah lapangan, yang dikelilingi bukit-bukit yang dipadu dengan pohon pinus. Ya, kami sedang berkemah. Dan memang begitulah suasananya, hingga pukul 10 malam, hawa dingin itu tak terasa sama sekali bagi saya. Namun sebentar kulihat teman-teman lain mulai merapatkan jaket dan sarung mereka, tanda-tanda mulai kedinginan. Agaknya tak lama kemudian, saya pun harus merubah pendapat saya. Sekitar lewat jam satu malam saya pun berkali-kali terbangun oleh karena hawa dingin. Sesekali bisa tidur, namun toh berkali-kali terbangun juga akhirnya. “Untung saja”, tak lama setelah itu, saya pun dibangunkan panitia, untuk kegiatan renungan malam. Dengan mata diikat, dan dituntun seorang panitia, saya “digiring” keluar menuju sebuah lokasi. saya kehilangan orientasi saat itu. Tidak tahu mana arah timur, barat, atau utara. Namun yang pasti, sekeluar saya dari tenda, hawa dingin, langsung segera menusuk sendi-sendi ini. Suasana didalam tenda yang dinginnya saja sudah mampu membangunkan saya berkali-kali, ternyata kalah dengan di luar tenda. Bisa dibayangkan ketika, masih dalam keadaan mata tertutup, saya disuruh duduk menghadapi salah seorang senior. Andaikan disuruh push up, barangkali saya lebih menyukai hal itu. sekedar untuk menghangatkan tubuh. Namun kali itu tidak. saya hanya bisa duduk. “Dingin ya Hid..??”, senior itu coba menyapaku. “Dingin sekali mas..!!”, jawabku sambil menggerak-gerakkan lengan, coba mengusir hawa dingin itu. Bagaimana tidak dingin coba, pakai jaket atau tidak, rasanya sama saja. Saking dinginnya, tubuh ini serasa mati rasa. Ya, benar, mati rasa. Tidak ada lagi yang bisa dirasakan selain dingin. Saking dinginnya, ketika disuruh mensimulasikan sebuah taujih, dan wawancara lainnya, mulut ini seolah sulit untuk diajak bicara. Padahal jika dalam kondisi biasa, saya dikenal cerewet. Namun tidak kali itu. Susana dingin mencekam seolah juga membekukan otak dan mulut kami. Yah bisa dibayangkan, bagaimana ketika kita sulit sekali berbicara dan berpikir jernih. Jadilah di malam-malam berikutnya, tidur saya tidak bisa nyenyak. Bahkan saking dinginnya, saya tetap ber-kaus kaki ketika sholat Subuh. Akhirnya sepulang diklat itu pun saya terkena Flu…. ya, baru kali itu, saya betul-betul merasakan dingin yang sebenar-benarnya. “Kalau di Batu, bulan-bulan begini, suhu dini hari bisa sampai 14 derajat lho..!!”, tukas temanku beberapa hari sebelum diklat. Namun agaknya, apa yang saya keluhkan di diklat tadi, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding cerita salah seorang ustadz kami. Ustadz Dwi Aprianto namanya. “Teman saya bilang, bahwa di Bosnia itu, suhunya bisa mencapai minus 20 derajat.”, ustadz Dwi memulai ceritanya. Belau memang punya teman-teman yang sudah pernah berperang ke medan-medan jihad. Di Afghan, maupun di Bosnia. “Hahh..!! minus 20 derajat..??” Di Batu yang masih 14 derajat diatas nol saja sudah seperti itu, apalagi yang minus 20, seperti apa coba..?? Ustadz Dwi melanjutkan ceritanya, “Dalam suhu yang seperti itu, hidung ini rasanya sudah seperti tidak terasa lagi. Sudah seperti hilang..!!”, tutur beliau disambut gelak tawa kami. “Bahkan dalam satu jam, kalian bisa mati kedinginan” “Tapi katanya seperti itu tidak ada apa-apanya karena di Afghan itu katanya malah lebih dingin daripada itu.” Lanjut beliau. Lebih dingin daripada itu..??? bayangkan coba..!! Beliau lantas bercerita tentang salah seorang Mujahidin di sana. Di medan jihad sana itu, ada salah satu Mujahidin, yang karena tugasnya ia hanya bisa bertemu pasukan lainnya, hanya sekali dalam sebulan. Ya, betul, sekali dalam sebulan. Mujahidin tersebut biasa ditugaskan untuk berada di puncak-puncak gunung Bersalju. Di tempat-tempat yang minus sekian derajat seperti tadi. Ia dibekali dengan senjata antipesawat. Tugasnya tak lain hanyalah mecoba merontokkan pesawat-pesawat musuh yang melintas. Jadilah setiap hari, yang ia lakukan, tak lain hanyalah menunggu,menunggu dan menunggu. Ketika ada pesawat atau helikopter yang lewat, maka tak lain tugasnya kecuali menembak pesawat tersebut. Kan tidak setiap hari ada pesawat lewat kan…?? Tidak ada kawan tidak ada alat komunikasi, tidak ada telepon, HP, radio, televisi, apalagi internet. Ustadz Dwi melanjutkan, “Dia disana, tidak punya teman siapa-siapa. Temannya disana hanyalah Al Quran, dan Allah SWT, tak lebih” “Dan dari sini, sebenarnya tidak akan ada satu hal pun yang mampu membuat ia melakukan itu, selain keikhlasan.”, ustadz Dwi, menutup ceritanya. Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah, ada juga ya, orang yang seperti itu…!! ya, saya pun mengakui, tidak mungkin seseorang mau untuk ditempatkan di tempat ekstrim seperti itu kecuali ikhlas. Tidak akan ada satu hal pun yang mendorong Mujahidin tersebut mampu untuk tetap bertahan SENDIRIAN di tengah dinginnya puncak-puncak gunung bersalju kecuali IKHLAS. Ikhlas tidak bisa disamakan dengan rela, karena konteknya memang berbeda. Ikhlas adalah semata-mata mengharap keridhaan Allah, bukan rela menjalani sesuatu, ataupun karena kehilangan sesuatu. Mereka tahu bahwa bayaran dari Allah adlah jauh lebih mulia, dari apapun yang ada di dunia. Di saat ketika ber-ribu-ribu mil jauhnya, kita masih bisa menikmati teh hangat,makan hingga kenyang, melihat tv, berkumpul bersama keluarga dan sebagainya, para mujahid itu justru memilih untuk bertahan di tempat ekstrim. Bertahan dan menunggu untuk menghancurkan musuh-musuh Allah yang lewat. Saya yakin, mereka tidak akan mengharapkan bayaran karena itu. Tidak seperti tentara-tentara, serbia, uni soviet, atau bahkan Amerika sekalipun..!! mereka juga tidak akan mengharapkan publikasi dari media-media kelas dunia. Bagi mereka, Cukuplah Allah yang menyaksikan, ya… cukuplah Allah yang menjadi tempat kembali mereka. Ah, tanpa terasa, saya pun membayangkan, bagaimana ketika mereka berjam-jam menunggu, atau bahkan berhari-hari menunggu pesawat musuh, mereka berjuang melawan kedinginan mereka , melawan musuh-musuh Allah, melawan kesendirian dan kesunyian mereka, dan lebih dari itu, mereka harus berjuang melawan noda-noda hati yang dapat merusak keikhlasan mereka. Mereka mengisi waktu-waktu mereka dengan tilawah, berteman dengan Al Quran, bahwa mereka tiada pernah sendirian, karena Allah pasti lah selalu bersama mereka. Barangkali hanya harapan dan keikhlasan, yang mampu menghangatkan hati-hati mereka. Harapan bahwa semua ini akan berakhir dengan kemenangan mereka, atau pun syahid di jalanNya. Keikhlasan bahwa cukuplah Allah yang akan membayar Nya, tak perlu pujian, bayaran, atau apa pun dari manusia. Allah lebih tahu akan semuanya. Ah sayang sekali, kenapa saya baru mendengar cerita tersebut setelah diklat. Mendengar cerita tersebut, tanpa terasa, diri ini menjadi malu sendiri. “Ya Rabb, betapa mudah hambaMu ini mengeluh akan sebuah kesulitan di jalanMu, sementara banyak diantara hamba-hambaMu yang lain, sungguh rela dan jauh lebih berat perjuangan mereka..!!, Ya Rabb, begitu banyak nikmat yang engkau berikan kepada kami, namun lalai untuk kami syukuri. Ya Rabb, muliakanlah mujahid-mujahid itu dengan jannah Mu Ya Rabb, muliakanlah mereka yang menyeru kepada jalanMu, yang menyeru manusia kepada Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mereka yang berjihad menjaga tegakknya izzah agamaMu.. Ya Allah, ikhlaskanlah hati-hati mereka..!! Malang, 21 Juni 2006

Bersyukur di sela Bencana

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un". Sebuah kata yang umum kita ucapkan ketika mendengar sebuah berita duka. Sebaliknya kata-kata Alhamdulillah sangat jarang kita temukan ketika terjadi peristiwa-peristiwa seperti ini. Sederhana, kita sulit menemukan sesuatu yang kita syukuri ketika terjadi musibah, paling-paling kita hanya bersyukur karena kita terselamatkan dari musibah seperti itu. syukur Namun kepulangan ku kemarin ke Ponorogo untuk meliput pasca Banjir, mau tak mau merubah sisi pendapatku tentang dua kata ini. Di atas truk yang melaju membawa bantuan ke lokasi pasca banjir, ustadz Agus, seorang ketua partai dakwah di Ponorogo sempat berkata, "Lah iya, ketika kita menyaksikan mereka mendapat musibah, kita itu merasa kasihan. Kita berucap ‘Innalillahi wa inna ilaihi raajiun’, tapi ketika kita bisa beramal membantu mereka, kita bersyukur karena bisa menambah amal pahala kita." Aku dan beberapa ikhwah lain hanya tertawa kecil membenarkan, bisa-bisa aja ustadz satu ini. Subhanallah, ucapan beliau mau tak mau menggugah sisi lain perspektif pandanganku tentang syukur. Beryukur ternyata tak hanya ketika kita mendapat sebuah kenikmatan, namun juga selayaknya ketika kita diberi kesempatan untuk beramal, untuk berbuat baik, untuk menambah amal kebaikan kita. Bukan bersyukur atas musibah yang menimpa saudara kita, namun Bersyukur bahwa kita masih diberi kelapangan untuk berbuat sesuatu bagi saudara kita yang kesusahan. bersyukur kita masih memiliki sisi kebaikan bersyukur pula bahwa kita diberi kepedulian bersyukur pula bahwa kita diberi kesempatan untuk beramal. "Kalau ada bencana begini bukan hanya innalillahi yang kita ucapkan, tapi juga sekaligus Alhamdulillah karena kita bisa lebih banyak beramal bagi ummat ini", tambah beliau. Suatu ucapan yang langka, di kala banyak orang tak lagi peduli atas musibah saudaranya, orang-orang ini justru berucap tak hanya Innalillah, namun juga Alhamdulillah karena mereka masih diberi kesempatan untuk beramal dan berkontribusi. Manakah Anda?, apakah Anda termasuk orang yang diam tak berkata apa-apa, atau yang hanya berucap "innalillahi", ataukah juga termasuk yang berkontribusi dan ‘layak’ berucap pula "Alhamdulillah".. wallahu’alam.. Anda sendiri yang lebih tahu. Malang 2 Januari 2007

Kacang Kita dan Kacang Mereka

Malam ini setelah browsing beberapa berita gempa, tiba-tiba saja mendapat sebuah berita yang mengingatkanku tentang sebuah situs yang kebetulan lama tak aku kunjungi, padahal situs tersebut sering diupdate. Ada sebuah berita di situs tersebut yang menarik perhatian saya. Berita yang mungkin bagi kita terlalu terdengar sepele dan sangat sederhana, Intinya tentang petani yang berhasil menanam kacang, dan menjualnya di pasar. Ya.. kacang.. kacang-kacang biasa seperti yang biasa kita makan, seperti yang biasa kita buat sambal pecel, dibuat rujak, atau sekedar cemilan penambah jerawat. Tak ada yang spesial dengan kacang itu, apakah kacangnya berbiji besar-besar, lebar, atau semacamnya, sama sekali tak ada. Tak jauh beda dengan kacang-kacang kita.kacang Bagi kita, orang Indonesia, tentu akan serentak berpikir, Kacang??? Apa uniknya sehingga ia lantas masuk berita??? Toh petani-petani kita bisa menanamnya setiap hari…??? tak kekurangan, bahkan boleh jadi berlimpah, dan dengan mudah bisa kita temui di toko-toko, pasar-pasar, dan bahkan di tegalan dan sawah sekitar kita. Lantas apa salah si kacang sehingga ia layak masuk berita? kalau orang keselek kacang lantas meninggal OK lah masuk berita, namun ini hanya orang yang “sekedar” menanam kacang, lalu menjual di pasar. Hal yang sama yang dilakukan oleh petani-petani kita, dan bahkan petani-petani lain di seluruh dunia. Namun ada yang beda dengan mereka… satu hal, karena mereka adalah petani-petani Gaza. Anda tahu Gaza kan? jika Anda tak tahu, bisa saya katakan, Anda adalah orang yang nyaris tak pernah bersentuhan dengan berita. Gaza adalah salah satu bagian dari Palestina, Satu-satunya di bumi ini yang masih terjajah, Negeri yang pada awal tahun baru 2009 kemarin diporakporandakan, dibombardir habis-habisan oleh penjajah Israel, dan membuat ribuan orang menjadi syuhada… dan yang mungkin sering dilupakan banyak orang ialah bahwa mereka adalah negeri yang terisolasi, yang terblokade dari seluruh perbatasannya oleh penjajah Israel. Ah, Ada yang kemudian membuat saya tiba-tiba terharu membaca beritanya.  Menanam Kacang dan menjualnya di Pasar yang bagi kita di Indonesia sangat umum sekali, dan bahkan terkesan terlalu biasa, ternyata menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi saudara-saudara kita yang senantiasa hidup dalam blokade dan rasa was-was akan serangan penjajah Israel. Bagaimana dalam sebuah negeri terisolasi, yang luasnya bahkan tak sampai sebesar pulau Jawa, mampu menghasilkan produksi hasil pertanian sendiri adalah hal yang sangat luar biasa. Bagi kita mungkin tak ada efeknya, namun bagi mereka, ini berarti bisa mengurangi efek blokade yang sungguh sangat menyengsarakan. Ah, ini hanya secuil Gaza yang mungkin tak sesubur tanah Palestina lain yang kini dalam penjajahan dan diklaim sebagai wilayah Israel. Bersyukurlah kita di Indonesia, Anda mau tanam kacang di belakang rumah Anda pun dijamin tumbuh, air kita melimpah, tanah kita luas, dan bahkan kita tak perlu was-was ada pesawat menjatuhkan bom di lahan pertanian kita. Blokade apalagi… Anda tak perlu seperti mereka saudara-saudara di Gaza yang bahkan untuk bisa menanam kacang-pun sang Menteri Pertanian dari HAMAS harus studi dahulu ke Sudan, mendatangkan bibit pun tak bisa dengan truk seenaknya, harus diselundupkan melalui terowongan-terowongan penyelundupan, ketersediaan air yang kita bisa ambil dengan sangat mudah, apalagi belum dengan kekhawatiran setiap saat ada bom jaatuh membakar habis ladang kita. Ah, tiba-tiba saja saya jadi termenung, jangan-jangan kita ini kurang bersyukur… Ada tanah sebegitu luas, ada air sebegitu melimpah, ada kebebasan begitu mudah, Mau tanam kacang, kentang, wortel, sawi, kedelai, atau bahkan jengkol sekalipun negeri ini sungguh-lah mampu. Itu hanya hasil olahan tanah saja, belum ternak, belum tambang, belum ikan, belum yang lain-lainnya… yang kata seorang teman, kekayaan Indonesia itu  jauh lebih besar daripada kekayaan minyak negara-negara Arab. Namun anehnya, kenapa pula negeri ini tak kunjung pula barokah, dari jaman proklamasi sampai kini, lagu kemiskinan tak kunjung henti… apalagi kemaksiatan, rasanya kok jadi sejarah abadi. duh Robbi, ampuni negeri ini apabila tak kunjung Kau ridhai… Allahumma inni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibaadatik Kuatkan hati kalian wahai muslimin Gaza… doa kami menyertai kalian semua.   Malang 7 Oktober 2009 Ketika tiba-tiba ingin makan kacang…

Harga Sebuah Istiqomah

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar yang betul-betul mengejutkan. Salah seorang kawan SMA dulu, dikabarkan sudah berbadan dua, alias hamil di luar nikah.harga price

“Kurang tahu ya, sekarang katanya dia diterima kuliah di Universitas X”, seorang teman memulai pembicaraan., “Tapi katanya sekarang ia sudah dobel”. Mendengar dobel, pengganti kata hamil membuatku heran. “Ah masak sih, trus…?”, tanyaku lanjut. “Ya, maklum lah, sejak SMA saja pergaulannya saja sudah kelihatan bebas. Pada awalnya aku juga nggak percaya, tapi setelah dengar sendiri dari Si Anu, temen lengketnya dia, aku baru percaya..!!”, sambung temanku dengan semangat. Saya benar-benar tidak menyangka akan mendengar hal ini pada awalnya. Begitu cepat manusia bisa berubah. Sebenarnya tak masalah sih ia hamil saat kuliah, namun itu andaikata ia punya suami yang sah disana. Suasana kehidupan bebas yang dijalaninya tak urung membuatku “maklum” akan hal itu. Meski sebenarnya hal ini tak boleh menjadi dalih atasnya. Disela-sela acara Ospek Kampus yang padat, Mas Sukri, salah seorang aktivis BEM, bertutur kepada kami, “Kalian tahu nggak sebenarnya apa hal yang seharusnya paling membahagiakan bagi kita…??” “Ketika kita membantu orang lain..??”, jawab salah seorang peserta tak yakin akan jawabannya. “Ya, itu juga benar, itu salah satunya, namun Kalian tahu nggak hal yang sungguh paling membahagiakan  kita..??”, Syukri berhenti sejenak, “Ketika kita bisa istiqomah dalam kebaikan.” Istiqomah, bisa diartikan untuk untuk tetap berada di jalan yang kita geluti sekarang. Untuk bisa bertahan terbang tinggi di tengah terpaan angin yang kuat sekalipun. Untuk memiliki sebuah laying-layang yang kokoh beserta talinya yang kuat. Hal yang sulit ditemukan belakangan ini. Teringat saya kan sebuah cerita di blog milik pak Suaidi, salah seorang guru saya, sebuah cerita yang bagi saya cukup membuat saya merenung. “Singkat cerita ada fulanah yang dulunya aktivis dakwah. Namanya aktivis dakwah tentulah menutup aurat mereka, berjilbab, berpakaian sopan, dan seterusnya. Setelah lulus S1, semuanya berpisah dan berpencar untuk mencari maisyah (kerja-red) sendiri-sendiri. Singkat cerita lagi, teman-teman seangkatan itu mengadakan sebuah reuni akbar. Dan ternyata dilihatlah sama kawan-kawan seangkatan beliau yang juga dulu pernah menjadi aktivis juga. Apa yang terjadi, si fulanah ini ternyata sudah 360 derajat berubah. Dia kini sudah tidak mengenakan kerudung alias buka jilbab dan lebih suka pakai rok mini. Karena memang dia bekerja menjadi seorang pramugari. Salah seorang muslimah temannya coba untuk memberanikan diri bertanya kepadanya yang sebelumnya sempat menjadi pembicaraan kawan-kawannya yang masih pakai kerudung itu. Apa coba jawab fulanah? “Apakah dalam setiap doa, kalian mendoakanku utk tetap istiqomah?“. Seluruh kawan-kawannya pun spontan terdiam. Lalu fulanah pun melanjutkan perkataannya, “… padahal setiap dalam sholat, aku mengingati kalian dan mendoakan agar kalian bisa tetap istiqomah.” Spontan saya jadi merenung, jangan-jangan selama ini saya lupa mendokan orang-orang disekitar saya?   Malang, 3 Januari 2006 revised in 2011

Membeli Kekhawatiran

Kehidupan dan aktivitas kampus yang lumayan padat, mau tak mau mendorong saya ingin segera memboyong Sepeda Motor ke Malang. Apalagi dengan pertimbangan bahwa di rumah, di Ponorogo sudah tidak ada lagi yang menggunakan motor tersebut. Ibu tidak bisa mengendarai sepeda motor, Ayah sudah ada sepeda motor dinas, sedangkan saya dan kakak sama-sama kuliah di Malang.membeli Ditambah lagi pertimbangan bahwa tempat kos kakak dan saya tidak terlalu jauh, sehingga otomatis bisa dipakai bergantian bila diperlukan. Akhirnya diputuskanlah saat itu, bahwa sepeda motor keluaran tahun 2001 itu akan diboyong ke Malang .Namun agaknya hambatan ada saja. Banyak teman yang menyayangkan begitu mengetahui bahwa kemungkinan besar motor tersebut akan dikirim via paket atau kurir. “Kok nggak dikendarai saja..???, kan bisa lebih murah. Lagian lho nggak habis bensin banyak kan..?? 20 ribu lho, udah nyampek…!!! daripada dipaketin..?? 200 ribuan. Ponorogo Malang, masak nggak berani..??” tantang seorang teman. Terus terang, dalam hati saya pun membenarkan. Memang sejak awal, saya mengusulkan bahwa lebih baik dikendarai saja, karena toh nggak akan habis bensin banyak jika dibandingkan dengan biaya dipaketkan. Waktu perjalanan pun hanya 6 jam. Namun agaknya orangtua berkata lain. Ibu lebih menghendaki apabila motor tersebut dipaketkan saja. Beliau khawatir jika nanti terjadi apa-apa di jalan. Dalam hati, meski agak kurang setuju, namun tak urung saya pun menurut juga. Maka pada suatu akhir pekan, saat kegiatan dikampus mulai agak mengendor, saya pulang. Pada awal-awalnya saya masih sempat terpikir untuk mencoba sekali lagi bernegoisasi dengan ibu, namun akhirnya tak urung saya menyerah juga. Alasan bahwa saya bisa, dimentahkan oleh ibu. Ditambah lagi bahwa syarat bahwa saya diperbolehkan jika ada teman yang juga ikut, sehingga bisa bergantian tidak terpenuhi. Maka jadilah, motor tersebut harus dipaketkan via kurir. Jadilah keesokan paginya, saya dan ibu pergi berputar-putar keliling kota untuk mencari jasa paket yang mau menerima pengiriman untuk sepeda motor. Akhirnya ketemu juga disebuah jasa paket titipan kilat, yang mau menerima pengiriman sepeda motor. Biayanya waktu itu sekitar 170 ribu. Sebuah biaya yang sebenarnya boleh dibilang lebih murah dari survey sebelumnya di jasa paket yang lain yang berada di kisaran 200 ribu-an keatas. Sebelum transaksi selesai dan uang dibayarkan, Seperti biasa terjadi dialog antara ibuku dan petugas administrasi paketnya. Kebetulan petugas tersebut juga wanita yang sebaya dengan ibuku, sehingga ia mudah akrab dengan ibuku. Dan mulailah pertanyaan dan percakapan basa-basi dari dua orang yang mulai berkenalan. Percakapan tersebut terus berlanjut hingga …” “Iya Bu, sebagai orang tua khan khawatir kalo anaknya ada apa-apa di jalan.”ucap ibuku saat membayar uangnya. “Ah, nggak sih bu, sebenarnya bisa kok saya kendarai”, jawabku agak menyangkal. “Ibu cuman terlalu khawatir..!!”, lanjutku seolah menaikkan harga diri. “Mas..!!”, ibu tersebut menegurku, “Yang Begitu itu, bukan pada masalah sampeyan bisa atau tidaknya mengendarai, tapi ini lebih pada kasih sayangnya ibu sampeyan, bukan begitu Bu..??”, tanya beliau pada ibuku. Aku hanya diam, kupikir-pikir ada benarnya juga. “Ibu sampeyan itu khawatir kalau nanti di jalan terjadi apa-apa pada sampeyan..!!” “Betul Bu..”, Ibuku membenarkan, “Sebagai orang tua, kita kan lebih baik memilih kehilangan uang nya daripada khawatir-khawatir anaknya ada apa-apa di jalan nanti..” “Degg….!!!”, jawaban ibuku kontan membuat mulutku terasa tercekat. Hampir-hampir tak bisa kubayangkan betapa aku malu pada ibuku sendiri. Betapa, ketika suasana tanggal tua seperti sekarang, yang mana untuk kepulanganku saja ibu harus mengambil uang dulu di bank, Ibu masih sempat-sempatnya untuk mengatakan seperti itu. Apalagi untuk sekedar, menghilangkan kekhawatiran tentang perjalanan anaknya. Ah, ibuku membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri. Akhirnya diputuskan saat itu juga, sepeda motor tersebut, dipaketkan, dan keesokan harinya saya pun balik ke malang dengan travel. Itupun karena dipaksa lagi, dengan alasan saya bawa laptop. Padahal sebelumnya saya ingin naik bus yang biayanya lebih murah. Ketika sudah setengah perjalanan, karena tak kuasa lagi aku menahan emosi, dan saat itu pula…. Seorang laki-laki seperti saya akhirnya menangis. Sungguh menangis, betapa besar sebenarnya kasih sayang seorang bernama ibu. Untung saja, suasana travel agak gelap dan lumayan kosong, ,sehingga tangisanku tak terlalu menarik banyak perhatian. Dalam perjalanan pula, seorang teman bertanya melalui sms-nya, apakah ia harus izin ibunya dulu untuk ikut dalam sebuah acara penting yang mengharuskannya keluar kota. Tanpa pikir panjang, langsung kujawab “Ya, antum sebaiknya ijin dulu,” balasku dalam SMS nya. Dan setelah itu, dalam gelap nya suasana travel, dan diantara deru mesin mobil dan lalu lintas, air mataku pun berlanjut. Sebuah tangis bahwa ibuku rela untuk membeli kekhawatiran terhadap anaknya sendiri. Ya, membeli kekhawatiran, kekhawatiran terhadap hal yang belum terjadi. Ya Rabb, betapa besar kasih sayang dan karunia dari Ibuku, dan betapa kecil jasa hamba-mu ini membalas jasa beliau. Sejak peristiwa itu, ketika teman-teman menanyakan kenapa kok tidak dikendarai saja, saya pun menjawab singkat, “Mungkin kamu belum pernah merasakan betapa besar kasih sayangnya ibumu”, dan mereka hanya bisa diam.

Kacang Tanpa Isi..

kacang habis isiAda yang mengatakan bahwa orang yang membaca Al Quran, maka Insya Allah di masa tuanya, ia tak akan buta, dan tak mudah lupa.

Namun alangkah lucunya ketika banyak dari kita yang justru membelikan ayah-ayah kita yang sudah tua renta buku-buku teka teki silang, atau sudoku, dengan alasan agar tidak lupa?

Orang seringkali marah jika melihat ada ayat-ayat dari Al Quran, entah itu dalam bentuk lembaran atau bahkan dalam bentuk mushaf sekalipun, yang terinjak-injak…

Namun alangkah lucunya ketika orang-orang ini justru diam ketika melihat orang-orang yang menginjak-injak isi dan martabat Al Quran itu sendiri..

Kita seolah hanya makan kulit kacang.. sementara isinya justru kita buang.??

Alangkah lucunya orang-orang Islam ..

Ah maaf, barangkali orang-orang seperti kita ini bukanlah orang Islam Bukankah kita hanya sholat namun sholat itu tak pernah membekas di hati-hati kita..??

Bukankah kita membaca Al Quran, namun kita tak pernah mempelajari maknanya

Atau bahkan mengamalkannya di kehidupan kita..??

Apa yang kita sebut sebagai keimanan kadang tak lebih dari sepenggal pemahaman yang kering makna.

keimanan ini hanya seolah berkobar di rumah-rumah dan di masjid-masjid namun padam seketika di kampus, sekolah, pasar, rapat RT, kantor… lantas kapan lagi sebenarnya Islam ini akan memancar di wajah setiap manusianya?

Ini bukan mimpi semu atau mimpi palsu.. Untuk membawa sebuah kebenaran Islam di wajah setiap manusia.. Di seluruh dunia… seperti di masa Rasulullah.. dan khulafaur Rasyidin, sebuah negara sebuah sistem yang melindungi seluruh mukmin.

Barangkali kita perlu ragu pada keimanan kita Jika kita belum mampu atau pun belum INGIN untuk membentuk dan mengusung peradaban yang berkeimanan…

-sesungguhnya segala sesuatu tergantung pada niatnya-

ah barangkali kita perlu lebih banyak ber istighfar..

Ponorogo, 2 September 2006

Empat hari Setelah ceramah yang mengagumkan

Jangan Menangis Ma…

Semenjak aku SD hingga mahasiswa, sekalipun belum pernah kulihat mama menangis. cc_mothersday6 Menangis hingga keluar air mata, atau setidaknya suara yang menjadi berat dan serak. Tak pernah sekalipun! Jangankan melihat, mendengarnya terisak di dalam kamar pun aku tak pernah. Entah karena mama yang memang tak pernah menangis ataukah karena mama yang tak mau putra putrinya melihatnya menangis. Ketika Papa dan mama bertengkar pun, biasanya hanya terjadi aksi saling diam selama satu hari. Dan jika sudah begitu, biasanya beliau hanya akan mengeluh tentang adik-adik Papa yang lama tak mencicil hutangnya, atau bercerita tentang bagaimana dulu ketika Papa kena kasus, dan mama-lah yang paling berjasa menanggung ekonomi keluarga. Aku hanya maklum, sebuah pelampiasan emosi yang memang wajar, dan aku pun hanya mendengarkan tanpa banyak berkomentar. Tapi biasanya hanya seperti itu saja, sudah selesai dan tanpa ada sebuah tangisan sedikitpun disana. Bahkan ketika itu terjadi , tak tampak sedikitpun raut kesedihan diwajah beliau. Namun beberapa bulan belakangan ini, setelah mama terkena sakit kemarin, sakit yang membuatnya tak bisa kemana-mana selain di tempat tidurnya, mamaku tak lagi seceria dahulu. “Hiburan mama hanya kalian berdua”, ujar beliau di telepon suatu hari. Aku hampir menangis mendengar kata-kata tersebut. Tapi aku yakin bukan itu, mama tak lagi ceria karena beliau tak lagi bisa mengirim tambahan uang untuk putra-putrinya. Ketika mama masih sehat, dan semenjak Papa didzalimi oleh kantornya dengan hukuman skorsing yang tak kunjung ada kejelasannya, gaji beliau berkurang banyak. Ketika enam bulan hukuman resmi, gaji beliau hampir membuatku menangis,karena bahkan untuk hidup satu orang selama satu bulan pun tak cukup. Selama itu, sekali lagi, mamalah yang paling banyak berjasa untuk keluarga. Mama membuat jajan yang dititipkan ke toko milik tetangga. Beliau juga menerima pesanan entah itu kue atau nasi kotak dari rekan-rekannya. Alhamdulillah, dari situlah beliau bisa mengirimi putra-putrinya uang setiap bulannya. Namun itu tak berlangsung lama, ketika suatu waktu mama terkena penyakit tersebut. Entah kenapa, saat itu beliau masih bisa tersenyum, meski tubuhnya tak berdaya apa-apa. Layaknya seorang bayi, apa-apa harus dilayani. Makan, minum, mandi, dan lain-lain masih butuh bantuan orang ketiga. Ah untung saja Papa terkena skorsing sehingga ia bisa merawat mama di rumah. Andai tidak, maka siapa yang akan merawat beliau? Dan sekali lagi, Aku pun hampir menangis melihat tubuh yang lemah terbaring di tempat tidur itu, tubuh yang biasanya aktif datang ke pengajian-pengajian, tubuh yang biasanya membuat kue dan nasi kotak untuk membiayai kehidupan keluarga, kini otomatis tubuh itu tak bisa berbuat apa-apa. Dan aku pun menangis jika mengingat mama terkena sakit tersebut hanya karena kecapekan membuat kue pesanan, yang jelas hasilnya itu untuk dikirimkan ke aku dan kakakku. Di awal-awal sakit beliau, saat itu, syukurlah mamaku setidaknya masih bisa sedikit ceria. Pasalnya di awal-awal masa sakitnya, masih banyak dari teman-teman Papa dan mama yang datang menjenguk. Dan terlebih lagi karena aku pun masih menyempatkan diri di sela-sela kepanitiaan Ospek kampus untuk pulang membantu Papa. Namun seiring waktu, yang berkunjung semakin sedikit, dan karena tugas aku pun juga harus segera balik ke Malang, mamaku mulai kesepian. Andai tak ada tetangga yang baik hati, tentulah rumah kami sangat sepi. Meski ada TV disediakan di depan tempat tidur beliau, namun mamaku bukanlah tipikal orang yang suka menonton televisi. Waktu kesehariannya biasa ia gunakan membuat pesanan kue atau nasi, ya karena memang itulah hobinya. Dan sungguh bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang sangat aktif seperti mamaku tiba-tiba harus berhenti total dari kegiatannya. Kecintaannya terhadap putra-putrinya, keinginannya untuk segera beraktivitas, ditambah motivasi spiritual yang beliau miliki telah berbuah sesuatu hal. Dan, biidznillah sebuah keajaiban terjadi, tak sampai dua bulan mamaku sudah bisa berjalan dengan normal. Waktu yang bahkan sangat mengherankan dokter-dokter beliau. Ketika di hari sebelumnya beliau masih harus dibopong ke Rumah sakit, sebulan setelahnya, beliau sendiri yang berjalan ke ruang dokter tersebut. Ya, meskipun tangan dan tubuh beliau masih agak lemah, namun ini sungguh kemajuan yang luar biasa. Kami tak henti-hentinya berucap Syukur atas anugerah cepatnya kemajuan penyembuhan beliau. Namun kesembuhannya tak spontan membuat mama ceria, di sisi lain, beliau sadar bahwa ketika keluarga menumpukan ekonomi terbesar pada pesanan kue yang diterima oleh mama, dan kini beliau tak mampu berdaya apa-apa. Bukan hanya beliau terlalu lemah untuk membuat makanan-makanan itu, namun juga karena pesanan-pesanan kue itu kini tak lagi datang. Maklum, orang yang biasa memesan itu adalah rekan-rekan mama sendiri. Mengetahui kondisi mama seperti ini, mana tega mereka memesan kue-kue itu ke mama? Kondisi mama yang semakin membaik, tak membuat ekonomi keluarga menjadi pulih. “Maafin mama, belum bisa membahagiakan Tegar dan Lia”, ujarnya satu waktu. “Mama sebenarnya ingin mengontrakkan kalian rumah di Malang, kirimannya cukup, bisa mengunjungi Lia dan Tegar setiap bulan” Aku hanya bisa menghiburnya, “Tidak perlu seperti itu Ma, kita sudah cukup dengan kondisi ini” Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suara mamaku menangis di telepon. Aku tak kuasa berkata apa-apa, ini pertama kali aku mendengar wanita yang aku cintai menangis. Ketika suatu hari aku menyempatkan untuk pulang, mamaku bercerita, “Mama itu sering terpikir, apa kiriman mama disana nanti kurang, kalau anak-anak Mama kelaparan disana nanti bagaimana?” sampai disini, baru kali ini kulihat air mata mulai menetes dari sudut matanya. mamaku Menangis!!! “Gimana Tegar di Malang, makannya apa cukup, gimana uang-uangnya, dan lain-lainnya”. Tak sampai terisak memang, namun baru kali ini kulihat air mata itu meluncur dari sudut matanya. Suaranya pun menjadi seolah sangat berat, dan agaknya tangis seperti ini pun berulang lagi dalam waktu-waktu lainnya. Agaknya ujian terberat bagi mamaku bukanlah tentang penyakitnya, melainkan ketika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk putra-putrinya. Tak ada pesanan berarti tak ada pemasukan, dan tak ada pemasukan berarti pula tak ada uang saku untuk putra putrinya. Sungguh wajar ketika mama pun sering menangis, memikirkan apa yang bisa dimakan oleh putra-putrinya. Pernah suatu ketika, aku dan sahabatku di kampus menang dalam sebuah lomba yang mengharuskan kami untuk berangkat ke Jakarta. Uang hadiah yang didapat memang bisa aku bilang cukup besar, namun sayang seluruh ongkos transport, dll harus kami tanggung sendiri. Namun untung saja sahabatku ini mau untuk meminjamkan uangnya sebagai ganti ongkos sampai hadiah kami terima. mama sebenarnya tahu akan hal ini, namun menjelang keberangkatanku, beliau tetap mengirimkan uang sejumlah 300 ribu. “Untuk uang saku”, begitu kata beliau. Saat itu aku tak sempat berpikir apapun tentang uang saku. Jaminan utang transpor dari temanku ditambah tambahan uang saku dari fakultas tentulah lebih dari cukup. Aku pun juga tak sempat berpikir, darimana mamaku dapat uang tersebut. Dan sepulang dari Jakarta, aku pun antara marah dan menangis mengetahui uang 300ribu tersebut dari pinjaman ke tetangga kami. Ya, antara marah dan menangis. Menangis dan marah karena hanya agar tak khawatir ada apa-apa denganku di Jakarta, mama hingga rela meminjam uang ke tetangga. Sungguh seumur-umur, belum pernah keluarga kami meminjam uang ke orang yang tak ada hubungan darah dengan kami untuk masalah-masalah seperti ini. Namun Alhamdulillah, Allah memberikan badai, namun ia juga memberikan mentari indah beserta pelangi sesudahnya. Allah memberikan tetes air mata, namun ia juga memberi kita senyum yang cerah. Kondisi tersebut tak terlalu lama. Seiring membaiknya mama, ekonomi keluarga pun akhirnya membaik. Beberapa bulan setelah mama mulai bisa berjalan, Papa mulai dikembalikan ke pekerjaannya, Kini mama sudah bisa dikatakan lumayan jauh lebih sehat, dan ketika Papa pun sudah mulai bekerja lagi meski tanpa sebuah jabatan, kini senyum itu mulai sesekali kulihat ada. Senyum itu mulai ada ketika mama mulai mendapatkan hiburannya lagi dengan televisi, dengan kedatangan putra-putrinya, atau setidaknya bagaimana ia bisa ikut melantunkan bait-bait syair nasyid kesukaannya, “Rembulan di Langit Hatiku” setiap aku memutarkan untuknya. Senyum yang sama ketika mama mulai bisa beraktivitas, dalam arisan, dalam pengajian rutin pekanan di perumahan, dan sederet aktivitas lainnya. Meski senyum itu tak lagi secerah dahulu sebelum sakit, setidaknya senyum itu mulai ada lagi. Meski demikian tak jarang, mama jadi bersikap berlebihan dalam segala sesuatu. Bagaimana beliau memberi nasihat yang bagiku kadang berlebihan, Terkadang pula beliau sering mengulang apa yang sudah beliau ceritakan sebelumnya. Ah mama, sosok manusia yang bagiku sungguh luar biasa. Amatlah wajar jika Islam menempatkan bahwa Syurga ada di telapak kaki Ibu, amat wajar pulalah jika durhaka pada orang tua tergolong dalam dosa terbesar kedua setelah syirik. mama, maafkan aku. Ketika engkau menangis didepanku, aku tak kuasa untuk ikut menangis. Ketika air mata itu keluar dari pelupuk matamu, aku justru coba untuk tetap tegar tersenyum meski dalam hati aku menangis. Tegar sebagaimana engkau memberiku nama itu. Semata-mata agar kau tak tambah sedih melihat putramu juga ikut menangis. Namun sungguh mama, ketahuilah bahwa ketika aku berada disini dekat denganmu, ataupun ketika aku jauh darimu, aku senantiasa mengangis untukmu. mama, aku berjanji akan memberikan segala hal yang terbaik untukmu, Aku tak ingin mengecewakanmu, aku tak ingin membuatmu bersedih. Semata-mata agar aku setidaknya bisa berkata –meski lirih,meski dalam hati– “Jangan Menangis, Ma...” Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku, Kasihilah dan Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba ketika masih kecil. Amin… Ponorogo, 11 Februari 2008