Jalan jalan ke Taman Kenanga Batu

Sebenarnya tahu taman ini sudah lama. Sejak 6 bulan silam, dan kadang kadang pun sering kesini. Bagi Anda yang tidak tahu, Taman Kenanga ini adalah taman kota dari pemkot batu. Hanya saja lokasinya yang tidak di tepi jalan membuat taman ini jarang diketahui masyarakat, padahal viewnya disini bagus. Lokasinya ada di jalan kenanga (sekarang jalan mawar hijau), kecamatan bumi aji kota batu. Ancer ancernya dari arah kota batu menuju arah bumi aji / selekta. Nanti sekitar 100 meter sebelum hotel purnama (hotel besar kiri jalan) ada gapura di sebelah kanan, nah masuk situ. Terus saja hingga ada belokan ke kiri, belok situ, sekitar 200 meter di kiri jalan ada taman. Overall taman ini bolehlah untuk melepas penat setelah Anda balik dari cangar atau selekta, buat duduk duduk menikmati pemandangan. Apalagi tak perlu mbayar untuk kesini, yang tukang parkir pun juga tak ada. Sayangnya walaupun sudah menelan biaya banyak untuk pembangunannya, dengan segala fasilitas yang ada, kondisi taman saat ini masih kurang terawat. Listrik masih belum masuk, kolam air mancur yang belum berfungsi, dan bahkan toiletnya pun terakhir kali kami kesini justru dikunci. Untuk penerangan malam hanya mengandalkan lampu PJR tenaga surya di sudut sudutnya. Walau terdapat sangkar burung, namun tidak ada tanamannya juga. Beberapa fasilitas yang ada antara lain gazebo tempat duduk duduk, lapangan rumput, air keran, trotoar batu batu kecil, dan toilet umum (pertama kesini toiletnya kebuka, tapi terakhir kekunci). Meskipun begitu, saya toh tetap senang disini karena view nya yang ciamik. Dari sini kelihatan sebagian kota batu dari ketinggian. image Di belakang taman ini bersebelahan persis dengan sumber air umbul gemulo yang banyak dimanfaatkan untuk air warga. Foto dibawah yang bagian pohon tinggi tinggi itu daerah sumber airnya. image Kalau Anda ke tepi taman juga tampak bagus juga kebun bunga dan sayur milik warga sekitar. Viewnya itu lho, nyenengin. [caption id="" align="alignnone" width="1072" caption="Ini kebun sayur samping taman"]image[/caption] Di depan taman juga ada nursery milik warga yang menjual berbagai tanaman hias. image [caption id="" align="alignnone" width="2000" caption="Nursery depan taman kenanga"]image[/caption] Kebanyakan yang kesini umumnya adalah anak anak muda yang "kongkow", utamanya dari warga sekitar. TS sendiri sebenarnya bukan warga sekitar, malah dari kota malang yang jauh, tapi cukup senang dengan fasilitas dari pemkot batu ini. image Silakan yang mau kesini... ajak juga keluarga Anda. Malang 26 Agustus 2015

Teman Yang Menghangatkan

Jika boleh dibilang, saya orangnya termasuk orak yang “Sok” dingin. Lebih tepatnya sih “Sok” tahan dingin. Tapi yah memang kenyataannya begitu. Pernah suatu ketika saya dan beberapa teman menginap di sebuah Villa di kota Batu. Ketika malam mulai menjelang, teman-teman lain sudah mulai menggigil kedinginan, mereka tidur melapisi diri mereka dengan jaket dan selimut tebal, eh saya malah enak-enak nya tidur tanpa jaket, tanpa selimut satu pun. Justru saya yang heran dengan mereka, Apa ya sebegitu dinginnya sih..??menghangatkan diri Pernah juga sebelumnya, di suatu malam berkabut, ketika teman-teman lain pesan teh hangat atau kopi hangat, Aku justru bertanya pada penjualnya, “Es Teh nya ada mas..??”. Ya..ya..ya… beginilah kalau orang memang suka Es. “Kamu kan sudah pakai jaket kulit…!!”, canda seorang teman disambut gelak tawa kami. Ya, postur tubuhku yang memang gemuk, dan barangkali itu yang membuat saya lebih tahan dingin. Tapi memang begitulah, saya memang suka dengan suasana dingin. “Wajar”, pikirku. Karena, toh bukankah dingin lebih mudah diatasi daripada panas?? kalaupun kita kedinginan, toh dengan jaket tebal plus selimut sudah bisa menghangatkan kita. Bayangkan jika suasana panas?? Es teh di depan kita, mandi, ataupun kipas angin, pun belum cukup untuk menahan laju keringat kita. Jadilah, pengalaman di villa temanku tersebut mendasariku untuk tidak membawa banyak penghangat tubuh. Di diklat kali ini, di kota yang sama, Kota Batu, saya pun memutuskan untuk hanya membawa selembar jaket. Tidak ada selimut, apalagi selimut tebal. Dan agaknya memang begitulah kondisinya. “Tempat seperti ginian, masak sih dingin..??”, pikirku. Kami tidak berada di lereng gunung, apalagi di puncak. Hanya sebuah tempat di tengah lapangan, yang dikelilingi bukit-bukit yang dipadu dengan pohon pinus. Ya, kami sedang berkemah. Dan memang begitulah suasananya, hingga pukul 10 malam, hawa dingin itu tak terasa sama sekali bagi saya. Namun sebentar kulihat teman-teman lain mulai merapatkan jaket dan sarung mereka, tanda-tanda mulai kedinginan. Agaknya tak lama kemudian, saya pun harus merubah pendapat saya. Sekitar lewat jam satu malam saya pun berkali-kali terbangun oleh karena hawa dingin. Sesekali bisa tidur, namun toh berkali-kali terbangun juga akhirnya. “Untung saja”, tak lama setelah itu, saya pun dibangunkan panitia, untuk kegiatan renungan malam. Dengan mata diikat, dan dituntun seorang panitia, saya “digiring” keluar menuju sebuah lokasi. saya kehilangan orientasi saat itu. Tidak tahu mana arah timur, barat, atau utara. Namun yang pasti, sekeluar saya dari tenda, hawa dingin, langsung segera menusuk sendi-sendi ini. Suasana didalam tenda yang dinginnya saja sudah mampu membangunkan saya berkali-kali, ternyata kalah dengan di luar tenda. Bisa dibayangkan ketika, masih dalam keadaan mata tertutup, saya disuruh duduk menghadapi salah seorang senior. Andaikan disuruh push up, barangkali saya lebih menyukai hal itu. sekedar untuk menghangatkan tubuh. Namun kali itu tidak. saya hanya bisa duduk. “Dingin ya Hid..??”, senior itu coba menyapaku. “Dingin sekali mas..!!”, jawabku sambil menggerak-gerakkan lengan, coba mengusir hawa dingin itu. Bagaimana tidak dingin coba, pakai jaket atau tidak, rasanya sama saja. Saking dinginnya, tubuh ini serasa mati rasa. Ya, benar, mati rasa. Tidak ada lagi yang bisa dirasakan selain dingin. Saking dinginnya, ketika disuruh mensimulasikan sebuah taujih, dan wawancara lainnya, mulut ini seolah sulit untuk diajak bicara. Padahal jika dalam kondisi biasa, saya dikenal cerewet. Namun tidak kali itu. Susana dingin mencekam seolah juga membekukan otak dan mulut kami. Yah bisa dibayangkan, bagaimana ketika kita sulit sekali berbicara dan berpikir jernih. Jadilah di malam-malam berikutnya, tidur saya tidak bisa nyenyak. Bahkan saking dinginnya, saya tetap ber-kaus kaki ketika sholat Subuh. Akhirnya sepulang diklat itu pun saya terkena Flu…. ya, baru kali itu, saya betul-betul merasakan dingin yang sebenar-benarnya. “Kalau di Batu, bulan-bulan begini, suhu dini hari bisa sampai 14 derajat lho..!!”, tukas temanku beberapa hari sebelum diklat. Namun agaknya, apa yang saya keluhkan di diklat tadi, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding cerita salah seorang ustadz kami. Ustadz Dwi Aprianto namanya. “Teman saya bilang, bahwa di Bosnia itu, suhunya bisa mencapai minus 20 derajat.”, ustadz Dwi memulai ceritanya. Belau memang punya teman-teman yang sudah pernah berperang ke medan-medan jihad. Di Afghan, maupun di Bosnia. “Hahh..!! minus 20 derajat..??” Di Batu yang masih 14 derajat diatas nol saja sudah seperti itu, apalagi yang minus 20, seperti apa coba..?? Ustadz Dwi melanjutkan ceritanya, “Dalam suhu yang seperti itu, hidung ini rasanya sudah seperti tidak terasa lagi. Sudah seperti hilang..!!”, tutur beliau disambut gelak tawa kami. “Bahkan dalam satu jam, kalian bisa mati kedinginan” “Tapi katanya seperti itu tidak ada apa-apanya karena di Afghan itu katanya malah lebih dingin daripada itu.” Lanjut beliau. Lebih dingin daripada itu..??? bayangkan coba..!! Beliau lantas bercerita tentang salah seorang Mujahidin di sana. Di medan jihad sana itu, ada salah satu Mujahidin, yang karena tugasnya ia hanya bisa bertemu pasukan lainnya, hanya sekali dalam sebulan. Ya, betul, sekali dalam sebulan. Mujahidin tersebut biasa ditugaskan untuk berada di puncak-puncak gunung Bersalju. Di tempat-tempat yang minus sekian derajat seperti tadi. Ia dibekali dengan senjata antipesawat. Tugasnya tak lain hanyalah mecoba merontokkan pesawat-pesawat musuh yang melintas. Jadilah setiap hari, yang ia lakukan, tak lain hanyalah menunggu,menunggu dan menunggu. Ketika ada pesawat atau helikopter yang lewat, maka tak lain tugasnya kecuali menembak pesawat tersebut. Kan tidak setiap hari ada pesawat lewat kan…?? Tidak ada kawan tidak ada alat komunikasi, tidak ada telepon, HP, radio, televisi, apalagi internet. Ustadz Dwi melanjutkan, “Dia disana, tidak punya teman siapa-siapa. Temannya disana hanyalah Al Quran, dan Allah SWT, tak lebih” “Dan dari sini, sebenarnya tidak akan ada satu hal pun yang mampu membuat ia melakukan itu, selain keikhlasan.”, ustadz Dwi, menutup ceritanya. Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah, ada juga ya, orang yang seperti itu…!! ya, saya pun mengakui, tidak mungkin seseorang mau untuk ditempatkan di tempat ekstrim seperti itu kecuali ikhlas. Tidak akan ada satu hal pun yang mendorong Mujahidin tersebut mampu untuk tetap bertahan SENDIRIAN di tengah dinginnya puncak-puncak gunung bersalju kecuali IKHLAS. Ikhlas tidak bisa disamakan dengan rela, karena konteknya memang berbeda. Ikhlas adalah semata-mata mengharap keridhaan Allah, bukan rela menjalani sesuatu, ataupun karena kehilangan sesuatu. Mereka tahu bahwa bayaran dari Allah adlah jauh lebih mulia, dari apapun yang ada di dunia. Di saat ketika ber-ribu-ribu mil jauhnya, kita masih bisa menikmati teh hangat,makan hingga kenyang, melihat tv, berkumpul bersama keluarga dan sebagainya, para mujahid itu justru memilih untuk bertahan di tempat ekstrim. Bertahan dan menunggu untuk menghancurkan musuh-musuh Allah yang lewat. Saya yakin, mereka tidak akan mengharapkan bayaran karena itu. Tidak seperti tentara-tentara, serbia, uni soviet, atau bahkan Amerika sekalipun..!! mereka juga tidak akan mengharapkan publikasi dari media-media kelas dunia. Bagi mereka, Cukuplah Allah yang menyaksikan, ya… cukuplah Allah yang menjadi tempat kembali mereka. Ah, tanpa terasa, saya pun membayangkan, bagaimana ketika mereka berjam-jam menunggu, atau bahkan berhari-hari menunggu pesawat musuh, mereka berjuang melawan kedinginan mereka , melawan musuh-musuh Allah, melawan kesendirian dan kesunyian mereka, dan lebih dari itu, mereka harus berjuang melawan noda-noda hati yang dapat merusak keikhlasan mereka. Mereka mengisi waktu-waktu mereka dengan tilawah, berteman dengan Al Quran, bahwa mereka tiada pernah sendirian, karena Allah pasti lah selalu bersama mereka. Barangkali hanya harapan dan keikhlasan, yang mampu menghangatkan hati-hati mereka. Harapan bahwa semua ini akan berakhir dengan kemenangan mereka, atau pun syahid di jalanNya. Keikhlasan bahwa cukuplah Allah yang akan membayar Nya, tak perlu pujian, bayaran, atau apa pun dari manusia. Allah lebih tahu akan semuanya. Ah sayang sekali, kenapa saya baru mendengar cerita tersebut setelah diklat. Mendengar cerita tersebut, tanpa terasa, diri ini menjadi malu sendiri. “Ya Rabb, betapa mudah hambaMu ini mengeluh akan sebuah kesulitan di jalanMu, sementara banyak diantara hamba-hambaMu yang lain, sungguh rela dan jauh lebih berat perjuangan mereka..!!, Ya Rabb, begitu banyak nikmat yang engkau berikan kepada kami, namun lalai untuk kami syukuri. Ya Rabb, muliakanlah mujahid-mujahid itu dengan jannah Mu Ya Rabb, muliakanlah mereka yang menyeru kepada jalanMu, yang menyeru manusia kepada Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mereka yang berjihad menjaga tegakknya izzah agamaMu.. Ya Allah, ikhlaskanlah hati-hati mereka..!! Malang, 21 Juni 2006

Bukan di Tangan Dokter

Apakah Anda dikenai vonis tak bisa sembuh dari dokter? baik untuk stroke, kanker, atau penyakit apapun?

-hanya ada dua penyakit yang tak bisa disembuhkan, tua, dan maut-

Sekitar dua pekan lalu, saya, istri, dan mertua takziah ke salah seorang kerabat. Kakek kerabat ini di usianya yang sudah renta baru saja meninggal dunia. Dari perbincangan yang saya tangkap, beliau meninggal karena stroke. Sudah sekitar setahun beliau terkena stroke, dan aktifitas sehari-harinya hanya ia jalani di atas tempat tidurnya. (more…)