Jika Suara Ustadz dan Pelacur Sama Saja

Jika suara ustadz dan suara pelacur sama saja,
harusnya ustadz diperbanyak suaranya
kita gemparkan kita keraskan membahana
agar suara pelacur kecil, bahkan sirna...
Kau melarang ustadz dan santri bersuara
bahkan menyuruhnya mundur dari arena
yakinlah para pelacur-pun bergembira
maula mereka kan berkuasa
dan tertawa
ustadz-ustadz tersingkir, terkikis
seperti kampas rem menipis
jangan sampai kau menangis
jika syariat negeri makin menipis
ujung-ujungnya kau salahkan mereka
kau bilang mereka tiada guna
ikutan kafir, bikin malu umat saja
padahal kan kau sendiri awalnya
larang ustadz tuk bersuara
saudaraku tercinta
sedang ada khilafah atau tiada
dijalanmu atau jalan mereka
amar ma'ruf nahi mungkarnya
harus tetap tegak dimana saja
di kajian,
di jalanan,
di gedung dewan,
dan istana kepresidenan [caption id="attachment_240" align="alignright" width="300"]jika suara ustadz dan suara pelacur sama saja jika suara ustadz dan suara pelacur sama saja[/caption]
silakan lanjutkan salurkan energi
membungkan suara ustadz dan para santri
kau pikir khilafah akan semakin mudah berdiri
jika musih agama, pelacur, dan penjudi
kuasa mereka pimpin negeri
Malang, 3 Maret 2014
di sela gagal paham
 

Semua Tidak Sesederhana Kelihatannya (Ust. Farid Nu’man)

oleh Ust. Farid Nu'man Saudaraku. Berjuang lewat demokrasi, lewat jihad, lewat kajian, dan seStandalonemua media, membutuhkan perjuangan yang panjang.
Di Afghanistan sudah seabad lamanya jalan jihad di tempuh, sampai sekarang masih terjadi peperangan, sehingga sulit bagi mereka menjalankan syariah secara utuh. Akhi fillah ..
Kita tidak melihat dari keberhasilan dan gagal semata, tetapi perubahan ke arah yg lebih baik. Dahulu ketika masa orde baru kita ngaji takut-takutan, khutbah jumat diperiksa apa temanya, semua menjadi gerakan under ground ... Tapi saat ini, dialam kebebasan, semuanya muncul, bahkan yang beja-bejat pun juga muncul karena memanfaatkan kebebasan demokrasi.
Perjuangan itu bukan hitungan puluhan tahun, abad, .. bahkan berabad-abad. Jika antum mengambil contoh kemenangan FIS, Mursi, lalu dikudeta ..., maka jawaban saya adalah Melalui Pemilu atau Tidak, kemenangan umat Islam pasti dikudeta juga, karena tabiat permusuhan kita dengan mereka itu abadi.
Lihatlah Taliban, setelah berhasil menggulingkan mujahidin yang berselisih yaitu Burhanuddin Rabbani dan Qolbuddin Hikmatyar, lalu mereka menjadi penguasa di Afghan selama 5-6 tahun, mereka pun diserang oleh AS dan sekutunya dengan alasan mencari Syaikh Usamah bin Ladin ... Begitu pula yang terjadi di Sudan, Somalia, dll, ... , Jadi bukan masalah melalui pemilu atau tidak, tetapi memang begitulah musuh Islam.
Yang terbaru adalah, di Afrika Tengah, setelah umat Islam berhasil menguasai pemerintahan hanya beberapa bulan saja (bukan dengan pemilu tetapi kudeta), kaum Nasrani mengkudeta lagi, bahkan membantai umat Islam ... apakah kita katakan bahwa cara "jihad" juga gagal ?
tentu tidak sesederhana itu. Kita katakan, begitulah tabiat shira' bainal haq wal baathil (pertarungan antara haq dan batil) yang memang abadi. Saya tidak akan memaparkan maslahat apa yang sudah dicapai para anggota dewan muslim di sana, yg jelas sangat banyak, hanya saja kurang sosialisasi. Jika yang dimaksud "maslahat" adalah menegakkan syariah, maka hal tersebut pun juga menjadi agenda walau dgn pembahasaan yang berbeda, dan cara yg bertahap. Sabar aja ... Wallahu A'lam