Bukan di Tangan Dokter

Apakah Anda dikenai vonis tak bisa sembuh dari dokter? baik untuk stroke, kanker, atau penyakit apapun?

-hanya ada dua penyakit yang tak bisa disembuhkan, tua, dan maut-

Sekitar dua pekan lalu, saya, istri, dan mertua takziah ke salah seorang kerabat. Kakek kerabat ini di usianya yang sudah renta baru saja meninggal dunia. Dari perbincangan yang saya tangkap, beliau meninggal karena stroke. Sudah sekitar setahun beliau terkena stroke, dan aktifitas sehari-harinya hanya ia jalani di atas tempat tidurnya. Ahad kemarin, ketika mama berkunjung ke rumah, aku pun mendengar cerita tentang tetangga kami, seorang tetangga yang meskipun rumahnya terpaut 9 rumah dengan rumah kami, namun serasa  lebih baik dengan keluarga kami. Tak jarang pula beliau yang sering ikut membantu keluarga kami. Namun musibah menimpa keluarga tersebut, semua hartanya bahkan rumahnya pun terpaksa dijual karena musibahnya, dan sungguh kabar yang membuatku kaget ketika mendengar kabar, tahu-tahu tetangga yang selama ini kukenal tersebut meninggal dunia karena stroke. Ini belum termasuk dua tetangga lain di satu jalan perumahan asal saya yang juga terkena stroke hingga kini. Adakah kerabat, tetangga, maupun orang-orang yang Anda kenal sedang menderita penyakit ini? Saya tidak hendak menjual obat, maupun metode penyembuhan kepada Anda, saya hanya ingin membagi sebuah kisah, kisah nyata yang dialami oleh orang yang paling dekat dengan saya, mama saya sendiri. Saat itu mama dan papa sedang diundang, bersama-sama dengan tetangga-tetangga kami untuk menghadiri walimah seorang tetangga yang acaranya kebetulan berada di kota yang lumayan jauh. Ponorogo-Pekalongan itu sekitar 8 jam lebih perjalanan darat. Perjalanan yang terhitung cukup jauh mengingat biasanya rata-rata kami sekeluarga safar paling jauh hanya 5 jam perjalanan. Mama yang memang punya riwayat darah tinggi, ditambah kondisi tubuh yang lelah setelah menerima pesanan katering berjibun, ditambah lagi dengan kecapekan akibat perjalan jauh, dan beberapa sebab lain lagi (selain yang pasti karena qadarullah), maka ketika Allah berkehendak sakit, maka terjadilah. Di sebuah pagi, seusai sholat subuh, tiba-tiba mama merasa sakit nyeri luar biasa di giginya, dan tak hanya itu, tak berapa lama kemudian, mama pun tergeletak jatuh di samping dipan. Papa pun langsung minta pertolongan ke tetangga di kamar hotel sebelah. Tanpa menunggu lama, mama yang masih dalam  kondisi sadar, dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tak ada yang menyadari bahwa mama sedang mengalami gejala stroke. Sampai dirumah sakit barulah diketahui bahwa mama terkena serangan stroke. Tensi darah yang meninggi ditambah kondisi tubuh yang terlalu capek menyebabkan ada pembuluh darah yang pecah di otak. Mama lumpuh di tubuh sebelah kirinya. Segera aku dan kakak diberitahu, dan segera pula aku dan kakak berangkat dari Malang ke Pekalongan, meninggalkan sejenak setiap kegiatan dan aktifitas rutin. Bagaimana kira-kira jika anda diberi kabar bahwa orang yang anda cintai, tiba-tiba, dan sangat mendadak lumpuh akibat stroke. Kaget, sedih, dan sederet perasaan lain pun tentulah muncul. Ketika pulang kembali ke Malang karena harus bekerja, kakakku bahkan sampai menangis melihat kondisi Mama. Aku yakin, dibandingkan kami berdua, rasa-rasanya tentu Papa yang paling merasakannya. Bagaimana tidak, disela-sela kegiatan yang seharusnya senang-senang, ke walimah sekaligus rekreasi, mama justru terkena sakit. Tak sekedar sakit biasa, ini stroke hingga lumpuh separuh badan. Suami mana yang tidak shock? Terlebih saat itu papa juga terkena musibah di perusahaannya akibat ada anak buah yang bertindak nakal. Kini ditambah mama terkena stroke, dan di luar kota pula. Andai waktu itu mama terkena stroke di Ponorogo, mungkin tak akan seberat jika dibandingkan di Pekalongan, kota jauh yang butuh 8 jam perjalanan dari kota kami. Ah, namanya juga musibah, siapa pula yang bisa menolaknya? Namun diantara sekian banyak hal tersebut, hal yang paling membuat papa lumayan shock adalah ketika di satu waktu, pasca mama diperiksa menggunakan CT Scan, dokter syaraf yang menangani mama saya ini memanggil papa secara pribadi. Dan berlangsunglah dialog bak dalam film drama. Dokter syaraf tersebut memberitahu papa bahwa mama saya akan lumpuh seperti itu disisa hidupnya. Ya, “Lumpuh Seumur Hidup”, itu vonis yang dikatakan dokter syaraf tersebut. Degg, suami mana yang tak terkejut saat diberitahu bahwa istrinya akan lumpuh? Apalagi ini lumpuh di sisa hidupnya? Begitu pula dengan papa. Namun papa tak memberi tahu mama tentang pertemuan tersebut. papa masih menutup informasi dari dokter spesialis syaraf tersebut rapat-rapat. Tapi untunglah, papa bukan tipikal orang yang mudah menyerah. Menghadapi vonis dokter tersebut papa tak tinggal diam. Bermacam suplemen dibeli Papa untuk mempercepat kesembuhan mama. Mulai yang biasa berupa madu, air zam-zam, sampai habbatus sauda pun dibeli oleh papa. Saking banyaknya, sampai-sampai pasien yang satu ruang dengan mama pun diberi oleh papa. Subhanallah, ditengah kesusahan, Papa masih menyempatkan untuk berbagi. Aku yang sambil menunggui mama pun tak berdiam diri, berbekal browsing di sebuah warnet dekat rumah sakit, aku pun mencari tahu sekilas tentang penyakit stroke ini. Dan aku tahu satu hal yang agaknya tidak disampaikan dokter syaraf tadi. Satu informasi sederhana, “Ada orang yang sembuh dari penyakit ini” Berbekal segudang harapan, sambil mengisi waktu luang menunggu Mama di rumah sakit, aku pun mengajak mama melakukan gerakan-gerakan latihan sederhana. Mulai duduk, menggerakkan lengan kiri, tangan kiri, jari-jemari kaki, dan beberapa hal lainnya. Satu hal yang aku sendiri heran, kenapa rumah sakit tak memberikan, atau sekedar menyarankan sekalipun. Seolah pasrah dengan kondisi mamaku, seolah pasrah bahwa penyakit ini memang sudah waktunya, dan akan terus begitu disisa umurnya. Syukurlah, usaha-usaha tadi tidak sia-sia. Mama pulih cukup cepat. Hingga tak berapa lama, mama pun diperbolehkan pulang ke rumah. Meski tetap dengan setengah tubuh lumpuh terkulai, namun setidaknya kali ini dinyatakan cukup sehat dan kuat untuk menempuh perjalanan sekian jam pulang ke Ponorogo. Dirumah ternyata sudah begitu banyak orang menunggu. Satu persatu tamu-tamu berdatangan menjenguk kami. Mama dan Papa selalu baik kepada semua orang, tak heran yang menjenguk pun banyak pula. Ada yang membawa uang, makanan, maupun bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Tapi itu bukan pula berarti masa berleha-leha. Selain obat yang diberikan dokter, suplemen-suplemen seperti madu, bahkan cuka apel yang rasaya jauh lebih masam dari cuka biasa pun juga diberikan.   Tetap tak peduli dengan vonis lumpuh seumur hidup dari dokter sebelumnya, bermacam terapi dan pelatihan pun kami lakukan secara mandiri. Semua ikhtiar semata agar mama segera sembuh. Aku memberi daftar latihan harian sederhan untuk mama, ada pula saudara yang melakukan pijat refleksi buat mama. Sambil berharap terus syaraf-syaraf yang sebelumnya terputus agar segera tersambung kembali.   Lambat laun, ikhtiar kami membuahkan hasil.  Tangan yang sebelumnya lumpuh kini mulai bisa digerakkan sesekali. Jemari yang sebelumnya kaku, kini sedikit demi sedikit mulai bergerak kembali. Mama yang sebelumnya untuk sekedar duduk pun susah, sekarang bisa berdiri, meski harus dibantu. Namun meskipun begitu, semua perkembangan itu masih amat terlalu jauh untuk bisa dibilang sembuh. Namun sayangnya aku tak bisa membersamai mama. Liburan semester telah selesai, aku pun harus segera masuk kuliah. Dengan berat hati, aku harus kembali ke Malang, meninggalkan mama yang masih tak berdaya bak bayi, sendirian diurus Papa. Meninggalkan mama yang kini mulai jarang dijenguk orang-orang, mungkin dipikir orang-orang itu cukuplah sudah menjenguk sekali, mungkin pula sudah kadung terstigma pula bahwa Mama akan terus seperti itu sepanjang hidupnya, sebagaimana cerita papa mengenai vonis dokter tersebut kepada para penjenguknya. Tapi kesabaran memang berbuah manis, Allah mengabulkan doa kami. Aku tahu usaha papa mencarikan mama obat kesana kemari takkan sia-sia. Tak sampai sebulan pasca aku kembali ke Malang, aku diberi kabar bahwa sekarang mama sudah bisa berjalan, meski masih dibantu dengan kruk. Sebuah perkembangan yang membuatku tak henti-hentinya bersyukur. Beberapa pekan kemudian kabar lebih menggembirakan terjadi, mama sekarang setiap pagi bisa berjalan-jalan ke lapangan voli dekat rumah untuk “berjemur matahari”, istilah di lingkungan kami, “dede”. Hingga disebuah kesempatan, aku menyempatkan pulang ke rumah. Subhanallah, kini aku benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Mamaku sudah bisa berjalan sempurna. Meskipun masih sangat lemah, namun tubuh kurus itu kini tampil dengan perkasa. Aku yang masih belum terlalu yakin sampai meminta mama untuk mencoba melompat. Ya, hanya melompat. Dan Terharulah aku ketika melihat pertama kalinya mamaku melompat pasca strokenya. Sekarang sudah lebih dari dua tahun mamaku sepenuhnya sembuh total dari penyakit tersebut. Penyakit yang divoniskan seumur hidup oleh dokter syaraf tersebut, kini sembuh sepenuhnya dari tubuh mamaku. Mama yang sebelumnya lumpuh sebelah, kemana-mana harus digendong dan dilayani bak bayi sekarang bisa beraktifitas kembali. Dahulu yang tak bisa kemana-mana, sekarang sudah bepergian jauh kemana-mana. Ke Malang, ke Surabaya, Jember, bahkan ke tempat kerja kakak yang baru di Bali pun pernah. Bahkan kini mama, seseorang yang pernah divonis akan lumpuh akibat stroke seumur hidupnya, kini terkadang diminta bertandang ke rumah teman, tetangga, maupun saudara tetangga yang sedang terkena stroke, untuk menyemangati agar orang tersebut lekas sembuh. Dari kejadian ini aku belajar satu hal, bahwa sebenarnya sehat tidaknya kita, bahkan hidup matinya kita, takpernah sedetikpun ada di tangan dokter. Dokter boleh berkata seseorang akan lumpuh selamanya, atau hidupnya tinggal sekian bulan lagi, namun kesembuhan sebenarnya tak pernah sedetikpun ada ditangan mereka. Saya teringat ucapan salah seorang tetangga kompleks perumahan, beliau mengatakan bahwa soal kesembuhan bisa jadi masalah serius dalam agama. Beliau tak membahas tentang perdukunan macam Ponari dan sejenisnya, kita tentu sama-sama tahu apapun bentuk dan alasannya, perdukunan adalah kesesatan yang harus diberantas. Dan bukan ini yang beliau bahas, beliau mengatakan soal sederhana. Obat. Ketika seseorang minum obat, menenggak sebutir pil misalnya, orang tersebut harus sadar bahwa pil tersebut tak sedikitpun memberikan manfaat baginya, melainkan atas seizin Allah. Pil tersebut tak akan menyembuhkan penyakitnya, kecuali karena izin Allah. Pil dan sirup obat hanyalah ikhtiar manusia, namun kesembuhan tetap sepenuhnya ada di tangan Allah. Ya, sebuah kesadaran kecil bahwa kesembuhan ada dalam genggaman Allah. Sebagaimana pula dengan pil tersebut, sudah selayaknya pula kita sadar bahwa dokter manapun di atas bumi ini, tak sedikitpun memiliki daya kesembuhan. Mendatangi mereka hanyalah ikhtiar manusia untuk memperoleh kesembuhan. Persis dengan seorang manusia yang bekerja untuk mendapatkan uang, namun toh hasil akhirnya, rezeki – sebagaimana pula kesembuhan – selamanya tetap atas kehendak Allah. Ah, akhirnya saya baru sadar, kenapa ketika kita menjenguk orang sakit, bukan dianjurkan  berkata “semoga lekas sembuh”, melainkan  “syafakallah”, semoga Allah memberimu kesembuhan. Saya tidak hendak memprovokasi Anda, namun jika dokter Anda mengatakan bahwa penyakit Anda tak bisa disembuhkan, atau hidup Anda tinggal sekian bulan, saya menganjurkan untuk mengatakan kepada beliau, “Kesembuhan ada di tangan Allah, dan bukan di tangan dokter”.

Toni Tegar Sahidi

check me di http://sepatuterakhir.com/tentang-toni-tegar-sahidi/

Leave a Reply

Your email address will not be published.