Belajar Bekerja pada Pak Wardoyo

Malam sudah beranjak larut, dan hujan ringan sudah turun sedari sore. Siapapun yang tak ada perlu penting, niscaya ia akan memilih untuk menghangatkan diri bersama selimut tebal dan segelas kopi di kamarnya. Dan malam itu aku mau tak mau harus keluar kekantor pos mengantar paket pesanan para pelanggan benih. Usai dari kantor pos, sudah isya' dan aku pun berhenti di sebuah masjid "langganan" saya. Turun dari masjid kubuka HP, ada sebuah SMS mungil disana. "Nitip puthu bi", begitu isi sms dari istriku yang kubaca di perjalanan pulang. Jarak dari masjid itu dengan rumah hanya sekitar 2 Km saja. Sementara untuk membeli puthu langganan, saya harus berputar balik 2 Km lagi ke arah berlawanan. Dinginnya malam dan hujan setengah menggodaku untuk segera pulang saja. Namun sebagai suami, amanah istri tetap harus dijalankan. Jadilah amanah tetap dijalankan, namun Allah memang punya rencananya malam itu.puthu pak wardoyo Saat turun keluar dari masjid, naik motor dan hendak menyeberang jalan, sayup disela-sela gerimis ringan, sayup terdengar sebuah bunyi peluit uap, refleks aku berpikir "Puthu!!". Dan benar saja, tampak diseberang jalan, ada seorang lelaki renta dengan jas hujan dari plastik seadanya tengah mendorong gerobak merah mungilnya. "Puthu pak" begitu kupanggil ia. Beliau masih ditengah jalan belum selesai menyeberamg.Berhubung ini sedang di jalanan, tak ada ruko/toko terdekat tempat berteduh, maka ia pun segera mencari sebuah pohon - yang tak rindang- dan berhenti untuk meracik puthunya. Aku pun mengikutinya dan memarkir motorku di seberang gang. Jalanan sedang sepi, dingin membuat tak seorangpun jengah untuk pergi. Kubuka HP ku, sudah hampir lowbatt rupanya. Kusempatkan menjepret pak penjual puthu, makanan yang nyaris langka ini. Membalas-balas SMS sebentar, dan berhubung tak ada yang kulakukan, perhatianku kini tertuju pada beliau. Aku tahu beliau pernah lewat depan rumahku di suatu sore. Aku masih ingat wajah dan gerobak merahnya karena memang jarang penjual puthu lewat didepan kompleks rumah kami yang sepi. Tak urung, kucoba berbasa-basi, berharap siapa tahu ada pelajaran sederhana yang bisa kuambil darinya. Mohon maafkan saya yang tak ingat bagaimana berkata-kata, namun beginilah kurang lebih gambaran ia. Namanya Pak Wardoyo, sudah hampir 15 tahun ia berjualan Puthu di Kota Malang. Usianya pun sudah tak lagi muda, aku menebak sudah hampir setengah abad usianya. Setiap hari, dengan mendorong gerobak merah kecilnya, ia menyusuri jalan-jalan dan gang-gang di kota Malang. "Nggak mangkal pak?", tanyaku kepadanya. "Nggak mas, hasilnya lebih banyak kalau keliling", jawabnya ringan. "Dulu waktu saya masih muda, kalau keliling kadang sampai daerah Gadang", lanjutnya. Aku tercenung, jarak dari Alun-alun tugu ke daerah Gadang itu boleh terbilang sangat jauh, dan orang ini biasa melaluinya dengan Berjalan Kaki!. Barangkali itu resepnya ia tetap tampak sehat walaupun raut tak bisa menyembunyikan usianya. "Berangkat jam berapa pak?", tanyaku "Berangkat jam dua mas", "Terus jualan kayak gini pulang jam berapa Pak?", tanyaku penasaran. "Ya sampai habis, ya kadang sampai jam 10, kadang sampai jam 12",. Saat itu, dari adonan puthu miliknya, separuh pun tampaknya belum habis. puthu pak wardoyo Tak ada jaket yang ia kenakan, entah tak punya, entah juga tak mau. Pernah suatu ketika di suatu sore dingin berangin saat aku membelinya didepan rumah, ia hanya berbaju kaos rapi lengan pendek seadanya, padahal saat itu sedang musim angin dingin. Malam itu ia pun tak memakai selembar jaket, hanya mantel hujan plastik tipis yang ia kenakan. Wallahu alam, barangkali ia sudah punya ilmu penghangat ala Mujahid di Afghan dan Bosnia. Saat itu saya sedang membelinya di daerah Jalan bunga Mawar, dan ia tinggal di daerah Tarekot. "Kost", begitulah katanya. Ya, memang kost bukan sekedar milik mahasiswa ataupun karyawan kantoran semata. Pedagang informal seperti beliaupun juga ngekos. Ia ngekost bersama beberapa rekan se-Profesinya. Eh, ngekost? Terus keluarga? "Istri saya sama anak di Solo mas", jelasnya ringan. "Terus bapak pulang sebulan sekali?", tanyaku heran. Sambil tersenyum ia menggeleng, Kalau sudah cukup uang, kadang beberapa bulan, kadang ya setahun sekali, jelasnya. Malam beranjak semakin dingin, kue puthuku sudah selesai dan kubayar, "Ambil kembaliannya pak", kataku kepadanya. Belum selesai aku meninggalkan tempat, tampak seorang laki-laki mendatanginya pula, "Alhamdulillah, semoga laris", batinku. Malam itu saya terharu mendapat pelajaran baru, pak Wardoyo namanya, salah satu diantara sekian juta pekerja migran informal di Indonesia. Ratusan kilometer terpisah dari keluarga, berjalan setiap hari mulai jam 2 hingga tengah malam. Menyusur puluhan kilometer jalanan kota Malang yang dingin, tanpa jaket demi mengumpulkan rupiah. Mari melihat pekerjaan kita hari ini masing-masing, seberapa susahkah kita dibandingkan bapak ini? dan Seberapa bersyukurkah kita? Malang, 19 Agustus 2014

Toni Tegar Sahidi

check me di http://sepatuterakhir.com/tentang-toni-tegar-sahidi/

Leave a Reply

Your email address will not be published.