Mencegah Terorisme dengan Jihad.

Bom hanyalah alat, Manusia hanyalah kurir, Terorisme sejatinya adalah PEMIKIRAN   Melawan Pemikiran haruslah dengan Pemikiran, Logis rasional dibangun berdasarkan pemahaman, Bukan indoktrinasi deradikalisasi tak berdasar. Sebagaimana ibnu Mas'ud mendebat dan menyadarkan 200 orang Khawarij di masanya. Kalau kau tanya aku, apa solusi melawan pemikiran Terorisme? Jawabku satu : Sampaikan Kurikulum Jihad di pelajaran Agama di semua sekolah-sekolah kita, negeri dan Swasta Agar mereka tahu bagaimana Jihad yang benar dan seharusnya. Agar "tak mudah dicuci otak", begitu katamu. Tapi tentu itu jika para penguasa berani negerinya Maju, karena jika JIhad telah tertanam di hati penduduknya, Perang Koruptor, Mafia, Maksiat dan Kriminalitas, Adalah "efek samping" dari kalahnya terorisme. Negara kaya, berdaulat, dan kuat, Adalah Efek Utama dari Pemahaman Jihad yang benar.

Jangan Lupa (TETAP) BAHAGIA,

Orang lain tidak iri dan dengki dengan kekayaanmu,
Orang tidak dengki dengan kepintaranmu,
Orang tidak hasad dengan kecantikanmu, banyaknya keturunanmu, ataupun standar duniawi lainnya.
 
Tapi ada orang yang akan IRI dan DENGKI MELIHATMU BAHAGIA,
karena bahagianya hidup adalah ciri keberkahan,
 
Tak heran jika, -boleh jadi-, akan ada orang yang tetap iri dengki denganmu,
meski kau dicap miskin,
kau dianggap bodoh,
belum dikaruniai keturunan ,
apalagi cakepnya 'dibawah pasaran',
selama kau banyak bersyukur, tersenyum, dan berbahagia..
mereka akan iri dengki kepadamu
Percayalah, Sungguh diluar sana,
boleh jadi ada orang yang tangannya gatal,
matanya panas,
jiwanya sesak, hatinya pedih,
HANYA KARENA MELIHATMU bahagia.
 
Kau tak menyempitkan rezekinya,
kau tak mencaci keturunannya,
dan bahkan kau tidak melakukan apapun kepadanya!
 
Bukan salahmu mereka jadi begitu,
Bukan salahmu, dan BUKAN SALAHMU!
Kau Bahagia, dan dia jadi iri, dengki, hasad,
Itulah ciri penyakit jiwa...
Hati yang sakit
 
Kau tak melihatnya,
kau tak mengetahuinya,
namun dia akan menggunakan seluruh daya upayanya untuk sekedar melihatmu menderita,
atau setidaknya,
menghilangkan senyum ceriamu seperti biasa.
BUKAN SALAHMU atas penyakit hatinya, TETAPLAH Berbahagia!
Maka bersyukurlah jika kau dijauhkan dari orang-orang seperti ini,
membersamai mereka akan melukai jiwamu,
dan sakitnya jiwa lebih berbahaya dari sakitnya tubuh,
sakitnya tubuh akan sembuh dengan semangat jiwa,
namun jiwa yang runtuh, sungguh tiada obatnya
 
Bersyukurlah jika kau punya keluarga yang menyenangkan, teman yang shalih dan shalihah, tetangga yang baik, dan kenalan yang baiknya gak ketulungan!
Mereka lebih berharga dari uang milyaran,
hanya saja seringkali kita lupakan,
duh Robbi, mohon ampunkan!
 
Malang, 1 Juli 2017

5 Tahun Kemudian, Novel Sepatu Terakhir yang “Belum” (juga) Laris

hari ini dapat tag dari seorang teman, lebih dikenal dengan nama pena Gegge Mappangewa ( ketemu dengan beliau saat lomba penulisan Novel di Republika tahun 2011 silam. Dia juara 1, sedangkan saya beda dikit, ada angka 0 dibelakangnya, alias 10. Hehee... bahwa dia menemukan novel saya "terselip" diantara sebuah review  di sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia. Tepatnya sih Buku Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VIII Penerbitnya Yudhistira. Hmm... ternyata di tahun ini masih ada yang baca novel saya... Saya saja hampir lupa, Semoga selesai thesis ini nanti siap untuk melanjutkan novel selanjutnya :)    

Yang Kita Tahu, dan Tak Tahu

The more thing you know... The more you understand what you don't know yet...
Dulu waktu ambil konsentrasi jaringan, mikir, "ah, paling jaringan gitu - gitu aja", dan belakangan baru sadar bahwa "itu-itu aja" itu scope nya amat sangat besar, tak sekedar "itu-itu aja". Merasakan bahwa pada akhirnya, kita tak akan bisa menguasai semuanya, tidak dengan our human lifespan. Dan padahal, konsentrasi jaringan ini hanya satu bagian kecil saja dari luasnya keilmuan bidang komputer. Dan ilmu komputer hanya bagian kecil saja dari yang diketahui manusia (human knowledge). Di balik ilmu medis, ilmu bisnis, ilmu artis, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan dengan ilmu yang rendah, dan kecil seperti ini, terkadang ada manusia yang menyombongkan diri.. sungguh tidak pantas, menyombong dihadapan Allah sang pemilik ilmu, yang dalam sebuah hadits diibaratkan jika ilmu Allah itu ibarat lautan, maka ilmu manusia itu air yang melekat di jari setelah dicelupkan didalam lautan itu.
Yes, we're so small... nothing to be proud of! but that also means The UNDISCOVERED Knowledge is so huge!, so gigantic!
#LetsExplore #LetsLearn #LetsInvent Tentang ini, ada sebuah artikel bagus tentang apa perbedaan sekolah, SD, SMP, SMA, S1, S2, dan S3! Artikel yang bersumber utama dari Matt Might. Tentang how human knowledge, dan juga undiscovered human knowledge.. Cek Artikelnya disini.